Kasus Biles dan Tekanan Raih Emas yang Menakutkan bagi Atlet

Putra Rusdi K - Sport
Kamis, 29 Jul 2021 19:28 WIB
Simone Biles, of the United States, waits to perform on the vault during the artistic gymnastics womens final at the 2020 Summer Olympics, Tuesday, July 27, 2021, in Tokyo. The American gymnastics superstar has withdrawn the all-around competition to focus on her mental well-being. (AP Photo/Gregory Bull)
Simone Biles mundur dari Olimpiade Tokyo 2020 (Foto: AP/Gregory Bull)
Tokyo -

Kasus mundurnya pesenam Amerika Serikat Simone Biles di Olimpiade Tokyo 2020 mengejutkan banyak pihak. Tekanan meraih emas bisa mengganggu kesehatan mental Atlet.

Pesenam Amerika Serikat Simone Biles memutuskan mundur dari Olimpiade Tokyo 2020. Biles menarik diri dari semua kategori yang diikutinya.

Biles mengumumkan mundur dari Olimpiade Tokyo 2020 usai baru berlaga di satu kategori yaitu meja lompat beregu putri. Ia tak tampil optimal di kategori ini sehingga AS harus puas hanya mendapatkan perak. Sementara, emas diraih oleh Komite Olimpiade Rusia (ROC).

Alasan Biles mundur dari Olimpiade Tokyo 2020 mengejutkan banyak pihak. Ia mundur karena ini fokus memulihkan kesehatan mentalnya.

"Saya harus fokus pada kesehatan mental saya. Saya hanya berpikir kesehatan mental lebih penting dalam olahraga sekarang," ujar Biles dikutip dari Give Me Sport.

"Kita harus melindungi pikiran dan tubuh kita dan tidak hanya keluar dan melakukan apa yang dunia ingin kita lakukan," jelasnya.

Biles memang dibebani ekspektasi tinggi menjadi andalan AS dalam mendulang emas di ajang ini. Pasalnya, Biles punya reputasi luar biasa sebagai pesenam muda.

Ia telah meraih 19 emas di kejuaraan dunia senam. Empat tahun lalu di Olimpiade Rio 2016, Biles mampu meraih empat emas di saat usianya masih 19 tahun.

Ekspektasi untuk terus tampil sempurna ini tampaknya membuat Biles tenggelam dalam tekanan. Belum lagi, Olimpiade Tokyo 2020 merupakan pertandingan pertama Biles usai dokter tim senam AS, Larry Nassar, dijatuhi hukuman 175 tahun penjara atas kasus pelecehan seksual terhadap para pesenam muda AS.

Biles menjadi satu-satunya korban tindak tak terpuji dari Nassar yang tampil di Olimpiade Tokyo. Biles mengatakan tindakan Nassar menghancurkan mental dan fisiknya. Ia juga sudah kehilangan kepercayaan kepada Federasi Senam Amerika Serikat.

"Saya akan pergi ke sana dan mewakili Amerika Serikat, mewakili World Champions Center dan mewakili gadis kulit hitam dan cokelat di seluruh dunia. Pada akhirnya, saya tidak mewakili Federasi Senam Amerika Serikat," ujar Biles kepada CNN International jelang Olimpiade Tokyo.

Tekanan Besar Raih Emas dan Kesehatan Mental Para Atlet di Olimpiade Tokyo 2020

Kasus yang dialami Simone Biles menyuarakan kembali bahwa banyak atlet mendapatkan tekanan besar di Olimpiade Tokyo 2020. Hal ini justru berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.

Hal serupa dialami oleh peraih medali emas Olimpiade London 2012 dan Rio 2016, Jade Jones. Atlet taekwondo asal Inggris ini dibebani harapan kembali meraih emas ketiga kali secara beruntun di Olimpiade pada gelaran di Olimpiade Tokyo 2020.

Namun, hal ini justru membuatnya berada dalam tekanan besar dan ketakutan. Ia kemudian harus tersingkir di babak 16 besar.

"Saya pikir saya hanya memberi terlalu banyak tekanan pada diri saya sendiri. Saya merasa takut, saya merasakan terlalu banyak tekanan," ujar Jade Jones dikutip dari Give Me Sport.

Kita juga tentu juga ingat bagaimana lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan meminta maaf usai hanya meraih perak. Ia tampak begitu menyesal gagal mewujudkan ambisi meraih emas.

(pur/aff)