Maman Suryaman, si Pencetak 'Wanita Besi' di Indonesia

Muhammad Iqbal - Sport
Sabtu, 21 Agu 2021 07:50 WIB
Maman Suryaman (kiri) bersama anak asuhnya peraih medali perunggu Olimpiade 2020 Windy Cantika Aisah
Maman Suyrman (kiri), sosok di balik sukses Windy Cantika Aisah (Muhammad Iqbal/detikSport)
Bandung -

Di balik sukses atlet, selalu ada sosok pelatih jempolan. Perkenalkan Maman Suryaman, pelatih yang memoles para atlet angkat besi top dari Jawa Barat.

Sebuah lembaran kliping berita tahun 1987 berjudul 'Pertarungan Wanita Besi' tersimpan rapi dalam album foto milik Siti Aisah. Kliping berita itu merekam titik awal cabang olahraga angkat besi wanita Indonesia menunjukkan taji di mata dunia.

Setahun setelah berita itu, Siti Aisah didaulat menjadi atlet termuda dan pertama lifter wanita yang meraih medali dalam ajang Kejuaraan Dunia 1988 di Jakarta. Ia merebut medali perak pada ajang tersebut.

Sosok yang mendidik Siti Aisah adalah Maman Suryaman. Ia adalah legenda karena keberhasilannya meraih medali perunggu pada Asian Games di New Delhi 1982.

Dengan tangan dinginnya, ia mampu menyulap seorang atlet amatir menjadi atlet kelas dunia seperti Siti Aisah.

"Dulu saya dilatih oleh Pak Maman, masih sekolah SD di Pameungpeuk, Bandung. Saya awalnya melihat dulu bagaimana pak Maman berlatih, seperti apa itu angkat besi, ikut pelatnas, hingga akhirnya meraih medali di Kejuaraan Dunia 1988," ungkap Siti Aisah menceritakan masa lalunya.

Melompat ke tahun 2016, sosok wanita besi kembali hadir mengisi sejarah atlet angkat besi wanita Indonesia. Ia adalah Sri Wahyuni, peraih medali perak pada kelas 48 kilogram pada ajang Olimpiade Rio 2016.

Berselang lima tahun kemudian, Windy Cantika mendapatkan medali perunggu di kelas 49 kg pada gelaran Olimpiade Tokyo 2020.

Sri Wahyuni dan Windy Cantika seperti Siti Aisah, juga dididik Maman Suryaman. Saat ditemui usai penyambutan Windy Cantika oleh Bupati Bandung, Maman mengungkapkan kebahagiannya.

Maman mengungkapkan, dirinya sedang bersiap menyiapkan generasi selanjutnya setelah Windy Cantika.

"Pertama Sri Wahyuni di Olimpiade Rio, ini generasi kedua (Windy), kami sudah menyiapkan generasi ke tiga sampai 5. Anak anak SD-SMP, usia 9 - 10 tahun," ungkap Maman kepada detikSport, Jumat (20/8/2021).

Ia mengaku hasil torehan prestasi anak didiknya tidak datang dari kebetulan. Ia dibantu tim pelatih membuat sebuah program jangka panjang agar generasi atlet asal Bandung dapat terus memberi prestasi.

"Bukan kebetulan, kami punya program di wilayah kami di kampung Pameungpeuk. Siti Aisah dulu rumah dekat tempat latihan, kakak-kakak Cantika juga latihan di sana," katanya.

"Yang bungsu ini (Windy) udah saya kawal. Ibarat tanaman tuh saya jaga agar tidak kena hama, kita kasih pupuk, siram tiap hari. Inilah proses yang jangka panjang yang tidak bisa kita ujug-ujug (tiba-tiba). Mudah mudahan kita siapkan generasi selanjutnya."

Di usianya yang sudah senja, kecintaannya pada dunia angkat besi tidaklah luntur. Dia akan terus mencari bibit atlet angkat besi yang dapat mengharumkan nama bangsa.

"Kita akan mencari yang ulet dan tekun seperti Windy Cantika. Itu susah, karena dia punya aturan disiplin sendiri, sudah tertanam dalam dirinya," pungkas Maman Suryaman.

(mrp/adp)