Italia Sedang Berkibar
Senin, 17 Jul 2006 05:40 WIB
Jakarta - Dunia olahraga Italia tampaknya tengah mengalami euphoria pasca kesuksesan tim Azzurri memenangi Piala Dunia 2006. Setidaknya dalam satu pekan terakhir ini bendera mereka masih berkibar di beberapa cabang bergengsi.Hari Minggu (16/7/2006) kemarin boleh dibilang merupakan kemenangan Italia berikutnya setelah di arena sepakbola, pada 10 Juli lalu, Fabio Cannavaro dkk mengalahkan Prancis di final Piala Dunia lewat adu penalti.Di arena balap mobil Formula 1, Italia dibantu seorang Jerman bernama Michael Schumacher untuk membawakan kemenangan di sirkuit Magny-Cours. Schumi, anak kesayangan tim Ferrari, tampil sebagai yang terbaik pada GP Prancis, mengalahkan pembalap tim Renault asal Spanyol, Fernando Alonso.Sambil merayakan kemenangannya Schumi tidak keberatan mengibarkan bendera merah-putih-hijau, yang notabene bukan bendera negaranya. Ia tentu maklum untuk melakukannya karena Ferrari adalah pabrikan kebanggaan orang-orang Negeri Pizza.Sukses Schumi (baca: Ferrari) juga seperti kemenangan kedua Italia atas Prancis setelah di final Piala Dunia, karena Renault adalah produsen mobil paling top di Prancis dan balapan ini digelar di kandangnya Zinedine Zidane cs itu.Sebelum Schumi (dan Ferrari) berpesta, orang Italia asli bernama Valentino Rossi lebih dulu naik podium tertinggi di sirkuit Sachsenring sebagai juara MotoGP Jerman. (Agaknya Italia masih berjodoh dengan hal-hal yang berbau Jerman, meskipun orang Jerman mungkin masih "membenci" Italia karena menyebabkan der Panzer tersingkir di babak semifinal Piala Dunia).Kebanggaan Rossi pada sukses Italia menjadi juara dunia ia tunjukkan begitu menyentuh garis finis pertama. Ia langsung mengenakan replika kaos Azzurri dan tidak melepasnya mulai dari victory lap sampai menerima tropi di atas podium.Yang cukup unik, baju yang dipilih Rossi bernomor punggung 23 milik Marco Materazzi. Secara tidak langsung ia seperti "membela" bek Inter Milan itu walaupun banyak orang menghujatnya lantaran menghina ibu dan adik Zidane, sehingga kapten Les Bleus itu naik pitam dan menanduk dadanya hingga tersungkur.Selain F1 dan MotoGP, bendera Italia juga berkibar dari lapangan tenis. Tim beregu putri mereka berhasil mengalahkan Spanyol dan menorehkan sejarah karena untuk pertama kalinya lolos ke babak final turnamen Piala Federasi. Kecuali kemenangan-kemenangan tersebut, kekalahan Italia sebenarnya dialami dari diri mereka sendiri. Hal ini menyangkut skandal mafia dan pengaturan hasil pertandingan, yang membuat persepakbolaan mereka makin diyakini berbau busuk dan kotor. Akan tetapi penyelesaian kasus buruk tersebut sebenarnya juga merupakan kemenangan tersendiri karena dilakukan dalam waktu relatif cepat. Publik diberi bukti bahwa mafia bisa dihentikan dan ditindak. Bahkan klub sebesar dan bersejarah macam Juventus dan AC Milan tetap tak kebal hukum.Memang putusan bersalah terhadap kedua klub tersebut, plus Fiorentina dan Lazio, belum final karena klub-klub tersebut tengah melakukan proses banding. Namun paling tidak sebuah itikad positif telah diberikan, bahwa Italia masih bisa bebas dari mafia. Jika tidak, ini amat disayangkan karena mereka memiliki talenta-talenta hebat di bidang olahraga.Foto: Valentino Rossi dan Marco Melandri naik podium pada MotoGP Jerman. Mereka mewakili kebangkitan dunia olahraga Italia. (AFP/Uwe Meinhold) (a2s/)











































