'Kalau Berprestasi, Uang Akan Mengikuti'

'Kalau Berprestasi, Uang Akan Mengikuti'

- Sport
Sabtu, 21 Jul 2007 14:47 WIB
Jakarta - Bonus menjelma jadi hal yang umum dalam dunia olahraga dewasa ini. Namun menurut Icuk Sugiarto, nasionalisme harus tetap nomor satu. Kalau nanti berprestasi, uang pun pasti mengikuti.Iming-iming bonus berlimpah bagi atlet berprestasi dunia memang mujarab untuk memacu semangat juang, pun bukanlah sesuatu yang salah. Tapi teramat keliru kalau akhirnya sampai melunturkan jiwa nasionalisme dalam sebuah kompetisi."Jangan sampai ini jadi komersialisasi dan atlet berprestasi demi bonus. Saat berjuang, jangan berpikir akan dibayar berapa. Berjuanglah demi Merah Putih," ujar Icuk Sugiarto, mantan juara dunia bulutangkis, dalam diskusi bertajuk 'Olahraga dan Nasionalisme' di Mario's Place, Menteng, Jakarta, Sabtu (21/7/2007).Icuk kemudian membandingkan kondisi atlet masa kini dengan zamannya yang meski miskin bonus tapi mampu meraih prestasi tingkat dunia. Semangat juang nasionalisme dan rela berkorban demi bangsa muncul sebab ada teladan dari para senior bahwa uang bukan segalanya.Seharusnya, lanjut dia, atlet masa kini pun dapat meneladani para seniornya. Apalagi industri media massa dan komunikasi memudahkan atlet berprestasi untuk meraup penghasilan tambahan, misalnya sebagai bintang iklan."Semua yang juara tak usah khawatir masa depannya, uang pasti mengikuti. Apalagi era sekarang, mudah bagi atlet berprestasi jadi model iklan. Lain dengan dulu, dan jangan kira atlet dulu tidak butuh uang," ujar Icuk yang kini menjadi staf ahli Menneg Pora tersebut.Juara dunia taekwondo 2003, Juana Wangsa, membenarkan pandangan seniornya. Tapi realitasnya, tidak banyak atlet mampu meraih prestasi dunia dan bisa mempertahankannya dalam waktu lama.Terlebih lagi profesi atlet tidak bisa selamanya dilakoni, karena ada keterbatasan usia. Ketika masa itu tiba, sering kali atlet menyesal karena terlambat mempersiapkan jaminan hari tua mereka."Memang bonus akan mengikuti bila kita berprestasi. Atlet mungkin tidak berpikir uang selama mereka berprestasi. Tapi setelah tidak lagi jadi atlet, kita lalu berpikir, 'aduh terlambat memikirkan kelangsungan kesejahteraan'," demikian Juana. (lh/krs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads