Kasus Pelecehan di Cabor, KOI: Jangan Diam, Atlet Harus Berani Bicara!

Kasus Pelecehan di Cabor, KOI: Jangan Diam, Atlet Harus Berani Bicara!

Mercy Raya - Sport
Kamis, 12 Mar 2026 14:10 WIB
perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) KOI ke-74 yang digelar di kawasan SCBD, Rabu (11/3/2026) malam.
HUT KOI. Foto: Mercy Raya/detikcom
Jakarta -

Komite Olimpiade Indonesia (KOI) mengimbau para atlet, ofisial, dan pelaku olahraga untuk berani bicara jika mengalami perlakuan yang tidak sesuai norma.

Imbauan itu disampaikan Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari di sela perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) KOI ke-74 yang digelar di kawasan SCBD, Rabu (11/3/2026) malam.

Olahraga Indonesia tengah tercoreng akibat dugaan kasus pelecehan seksual dan kekerasan fisik yang menimpa atlet-atlet pelatnas panjat tebing. Terduga pelaku merupakan pelatih kepala panjat tebing Indonesia, Hendra Basir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain panjat tebing, belakangan kasus serupa juga terjadi di cabang olahraga kickboxing. Salah satu atlet mengungkap dugaan pelecehan seksual oleh pelatihnya melalui akun media sosial.

ADVERTISEMENT

KOI menyatakan prihatin dengan kejadian tersebut dan meminta seluruh pelaku olahraga untuk aktif dan terbuka dalam menyuarakan keresahannya, termasuk korban yang mengalami pelecehan di lingkungan olahraga.

"Sebagai Ketua KOI, saya berterima kasih kepada Menpora, dan khususnya berterima kasih kepada Ketua Umum (Yenny Wahid) dan keluarga besar panjat tebing. Karena melalui panjat tebing sudah disuarakan kepentingan para atlet, ofisial, dan insan olahraga Indonesia," kata Okto dalam pernyataannya.

"Saya, Ketua Olimpiade Indonesia di usia yang ke-74 tahun, mengimbau kepada semua atlet, semua ofisial, semua pelaku olahraga untuk berani bicara. Bahwa kalau ada perlakuan yang tidak sesuai dengan norma, melakukan pelecehan, sampai pelecehan seksual. Laporkan."

"Kami punya safeguarding. Jangan diam, karena setiap suara itu akan menjadi keterwakilan dari teman-teman, dari yang lain yang mungkin hari ini ada yang diam. Mudah-mudahan ini terakhir," ujarnya.

"Tapi kalau sampai ada lagi. Bicara saja. Kami semua insya Allah akan siap untuk mengawal sampai ujung. Bahwa kebiadaban ini harus dihapus dari dunia olahraga di Indonesia," tuturnya.

Okto melanjutkan, di momentum perayaan HUT KOI ke-74 ini organisasinya juga terus melakukan introspeksi diri.

"Kami akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk olahraga Indonesia. Sekali lagi tanpa dukungan dari teman-teman sekalian. Tanpa dukungan dari masyarakat di Indonesia. Kita pasti tidak akan secepat untuk mencapai Indonesia menjadi berdiri bagi orang-orang di dunia," ujarnya.

Tidak Saling Menjegal

Sementara itu, Menpora Erick Thohir berharap bertambahnya usia KOI dapat mempererat seluruh stakeholder olahraga dan tidak saling menjegal.

"KOI sudah berdiri 74 tahun. Artinya banyak sejarah, banyak juga kisah sedih yang sudah terciptakan dan terasakan. Tetapi saya berharap dengan konsolidasi olahraga nasional, kita hormati KOI, KONI, NPC, KORMI sesuai dengan Tupoksi-nya. Tidak saling menjegal," kata Erick.

"Ya, inilah olahraga kita harus benar-benar menjadi duta bangsa dan mencerminkan kedigdayaan kita. Itu hanya bisa jalan kalau semua kita kompak. Termasuk kami di Kemenpora, kita introspeksi diri, bebenah diri. Tidak ada lagi main-main anggaran. Apalagi kita sudah ada pengawasan langsung dan Kejaksaan Agung."

"Dan tentu semua nanti ada budget untuk Olimpiade, Asian Games, SEA Games. Jadi kita tidak ada kecemburuan masing-masing cabor. Kok yang hanya diperhatikan hanya yang Olimpiade saja? Tidak," ujarnya.

"Yang Asian Games ada, SEA Games ada. Cuman ya memang targeted itu harus terjadi. Kita tidak lagi tidak ada targetin karena benar-benar efisien anggaran yang terjadi hari ini harus benar-benar punya tolok ukur dengan segala keterbatasan yang ada," pungkas Erick.




(mcy/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads