Kisah Pecatur Muda Nadiv Asadel Unjuk Gigi di Georgia

Kisah Pecatur Muda Nadiv Asadel Unjuk Gigi di Georgia

Mohammad Resha Pratama - Sport
Minggu, 21 Jun 2026 02:10 WIB
Pecatur muda Nadiv Asadel.
Pecatur muda asal Indonesia Nadiv Asadel (kiri). (Foto: dok.pribadi)
Batumi -

Satu lagi pecatur muda muncul dari Indonesia. Dia adalah Nadiv Asadel yang lagi mencoba peruntungannya di Georgia.

Nadiv, pecatur asal Citra Raya, Tangerang, lagi menjalani salah fase penting dalam perjalanan caturnya. Dia tampil di FIDE World Cadets Cup 2026, Batumi, Georgia, sebagai wakil Indonesia pada kategori Open U-12.

Bagi Asadel, turnamen ini bukan sekadar ajang mencari kemenangan. Kejuaraan dunia tersebut menjadi panggung pertama untuk mengukur kekuatan sebenarnya setelah hampir dua tahun menjalani latihan intensif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Asadel datang ke sini bukan dengan beban harus juara atau harus medali. Kami ingin dia menikmati permainan. Tapi tentu, sebagai orang tua dan tim pelatih, kami juga ingin melihat hasil latihan selama ini diuji secara objektif melawan pemain-pemain dari berbagai negara," ujar ayah sekaligus manajer Asadel, Hendriyanto, dalam keterangan kepada media.

Perjalanan Asadel menuju catur tidak dimulai dari anak yang sejak kecil duduk tenang di meja belajar. Dia sangat aktif sedari kecil. Dia pernah sulit mengikuti kelas di sekolah konvensional dan lebih senang bergerak di luar ruangan.

ADVERTISEMENT

Karena itu, keluarganya memindahkan Asadel ke Sekolah Alam Tangerang Mekar Bakti, tempatnya mendapat ruang tumbuh yang lebih sesuai dengan karakternya.

"Dia dulu anak yang tidak bisa diam. Pernah dimasukkan TK, tapi tidak mau masuk kelas. Mainnya di luar terus. Di sekolah alam pun dia sempat perlu guru pendamping karena terlalu aktif. Tapi justru energi itu sekarang berubah menjadi daya tahan fokus di papan catur," kata Hendri.

Ketertarikan Asadel pada catur muncul saat duduk di kelas 4 SD. Setelah kalah dalam pertandingan catur di sekolah, dia meminta kepada orang tuanya untuk belajar lebih serius. Dari kekalahan kecil itu, perjalanan panjang dimulai.

Pada 2024, Asadel mulai berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) Gading Serpong. Bakatnya kemudian mendapat perhatian Grandmaster Sean Winshand. Sejak saat itu, Asadel menjalani latihan privat dan program pembinaan yang lebih terarah.

Dalam satu tahun terakhir, intensitas latihan Asadel semakin meningkat. Ia berlatih teori dengan GM Sean Winshand, serta rutin melakukan sparring dan analisis bersama IM Muhammad Ervan dan IM Farid Firmansyah. Di luar sesi bersama pelatih, Asadel tetap menjalani latihan mandiri, membaca buku catur, berlatih endgame, dan bermain online.

"Dia justru senang kalau waktunya latihan. Ketemu coach itu dia semangat. Kami sebagai orang tua hanya menjaga agar proses ini tetap menyenangkan dan tidak berubah menjadi tekanan," ujar Hendri.

Di Batumi, Asadel menghadapi lawan-lawan dengan rating internasional. Pada beberapa babak awal, ia berhadapan dengan pemain dari Eropa dan Asia, termasuk lawan dari Korea Selatan, Taiwan, dan Jerman. Bagi Hendri, pengalaman ini sangat berharga karena menjadi ukuran nyata kemampuan Asadel.

"Rating FIDE itu menurut saya alat ukur yang fair. Yang dihitung hasil pertandingan dan rating lawan. Jadi apa pun hasil akhirnya nanti, itulah gambaran posisi Asadel saat ini. Dari situ kami bisa menyusun peta latihan berikutnya," jelasnya.

Hendri menyebut keluarga tidak ingin terburu-buru mengejar gelar. Setelah turnamen di Georgia, tim Asadel akan mengevaluasi seluruh partai untuk menyusun program latihan satu tahun ke depan.

Rencananya, Asadel akan mengikuti turnamen internasional secara berkala sebelum menjadikan turnamen di Serbia pada Juni 2027 sebagai ujian akhir dari program latihan tahunan.

"Harapan saya bukan hanya untuk Asadel. Saya ingin catur Indonesia punya ekosistem pembinaan junior yang lebih terarah. Anak-anak Indonesia punya potensi besar, tinggal bagaimana kita membangun jalannya dengan sabar," kata Hendri.

Asadel senang bisa merasakan atmosfer kejuaraan dunia. Dia menikmati kesempatan bertemu lawan dari berbagai negara dan belajar dari setiap pertandingan.

"Saya senang bisa main di sini. Lawannya kuat-kuat. Saya mau main sebaik mungkin dan belajar dari setiap game," ujar Asadel.

Bagi Hendri, keberangkatan Asadel ke Georgia sudah menjadi pencapaian tersendiri. Namun lebih dari itu, turnamen ini menjadi awal baru: dari anak yang dulu sulit duduk diam di kelas, kini Asadel belajar duduk berjam-jam di papan catur, membaca posisi, mengambil keputusan, dan membangun mimpinya pelan-pelan.

"Yang penting dia bahagia bermain catur. Kalau prosesnya dijaga, saya percaya hasil baik akan datang," tutur Hendri.

(mrp/yna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads