Tantangan Terberat Soft Tenis RI di Asian Games: Tuan Rumah dan Angin

Tantangan Terberat Soft Tenis RI di Asian Games: Tuan Rumah dan Angin

Mercy Raya - Sport
Selasa, 11 Agu 2026 13:30 WIB
Minim uji coba, soft tenis Indonesia tetap membidik dua medali perak dan satu perunggu di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya.
Foto: Mercy Raya/detikcom
Jakarta - Tim soft tenis Indonesia sudah memetakan tantangan yang akan dihadapi di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Selain harus menghadapi dominasi negara-negara kuat, kondisi cuaca dan angin di Jepang menjadi perhatian.

Soft tenis Asian Games 2026 akan digelar di Nagoya City Higashiyama Park Tennis Center pada September mendatang. Jepang sebagai tuan rumah menjadi salah satu kekuatan utama yang harus dihadapi Indonesia.

Dua atlet Indonesia, Tio Juliandi Hutauruk dan Allif Nafiiah, menjadi bagian dari skuad yang dipersiapkan tampil di Nagoya. Keduanya menyadari persaingan di level Asia tidak mudah.

Allif yang akan menjalani Asian Games keduanya mendapat gambaran mengenai kekuatan lawan setelah mengikuti try out di Korea Selatan pada Juni lalu. Indonesia membawa pulang tiga medali perunggu dari ajang tersebut, masing-masing melalui tunggal putri, ganda campuran, dan ganda putri.

Pengalaman itu sekaligus membuat Allif semakin memahami level persaingan yang akan dihadapi di Asian Games.

"Memang saat try out di Korea dengan melihat persaingan di internasional kayak Taiwan, Jepang, Korea, (bisa dibilang) kami masih jauh ya untuk persaingan melawan mereka," kata Allif usai latihan di Lapangan Soft Tenis di kawasan Kebayoran Lama, Selasa (11/8/2026).

Meski demikian, Allif tidak ingin menjadikan hasil uji coba tersebut sebagai alasan untuk pesimistis. Ia percaya persiapan yang dilakukan bersama tim bisa menjadi modal untuk tampil maksimal di Jepang.

"Tapi kami tetap optimistis dengan kemampuan yang ada, dengan fasilitas yang diberikan oleh negara, sama dukungan pelatih, manajer, dan ketua. Kamu optimistis buat memberikan yang terbaik untuk Indonesia di Nagoya, Jepang," tegas Allif.

Angin Bisa Pengaruhi Arah Bola

Selain kekuatan lawan, kondisi lapangan dan cuaca di Jepang juga menjadi perhatian. Allif menilai tim Indonesia membutuhkan proses adaptasi sebelum bertanding.

Soft tenis menggunakan bola karet yang jauh lebih ringan dibandingkan bola tenis lapangan. Karakter tersebut membuat kondisi angin menjadi salah satu faktor yang dirasakan pemain ketika mengontrol arah bola.

"Perlu sih (aklimatisasi). Dengan cuaca mungkin ya, dan lapangan. Dengan suhu di sana mungkin agak sejuk ya ketimbang di Jakarta yang panas seperti ini. Memang pengaruh juga ke bola, untuk pantulannya, seperti itu, angin," ujar atlet asal Jawa Tengah ini.

Tio juga merasakan hal serupa. Ia memiliki pengalaman menjalani training camp di Jepang ketika mempersiapkan diri menuju Asian Games Hangzhou 2022. Pengalaman tersebut membuat Tio memahami bahwa kondisi angin di Jepang bisa memberikan tantangan tersendiri bagi pemain.

"Kebetulan waktu itu kami sempat training camp di Jepang. Nah, itu anginnya tuh cukup dingin sama besar, jadi berpengaruh dengan arah bola sih sebenarnya," kata Tio.

Karakter bola yang ringan memang menjadi salah satu ciri khas soft tenis. Menurut Komite Olimpiade Jepang, bola soft tenis terbuat dari karet dan memiliki bobot yang jauh lebih ringan dibandingkan bola tenis lapangan, sehingga kontrol dan putaran bola menjadi aspek penting dalam permainan.

Karena itu, kemampuan beradaptasi dengan kondisi setempat akan menjadi bagian penting dari persiapan Indonesia sebelum bertanding.

Minim Turnamen, Latihan Dimaksimalkan

Persiapan Indonesia menuju Asian Games memang tidak sepenuhnya ideal. Keterbatasan anggaran membuat tim hanya memiliki satu kesempatan try out internasional di Korea Selatan pada Juni lalu. Tapi kondisi tersebut tidak membuat para atlet mengurangi intensitas latihan.

"Ya, untuk kami masing-masing kebetulan sudah mempersiapkan dengan matang untuk persiapan Asian Games ini. Untuk latihan cukup maksimal dan kebutuhan cukup terpenuhi," kata atlet asal Jawa Barat ini.

"Sebenarnya tinggal turnamen (try out) sih, cuma karena turnamen tidak ada, ya apa boleh buat kami maksimal di latihan saja."

Indonesia akan berusaha meningkatkan pencapaian soft tenis dari Asian Games sebelumnya. Pada Hangzhou 2022 yang digelar pada 2023, Indonesia meraih satu medali perunggu, sementara Jepang tampil sangat dominan dengan merebut empat dari lima medali emas yang diperebutkan.

PP Persatuan Soft Tenis Indonesia (Pesti) sebelumnya mematok target dua medali perak dan satu perunggu di Aichi-Nagoya. Target tersebut tidak ingin menjadi beban bagi para atlet. Bagi Tio, fokus utama adalah memberikan penampilan terbaik, apa pun warna medali yang akhirnya dibawa pulang.

"Targetnya ingin mendapat hasil yang terbaik. Apa pun itu hasilnya dari medali perunggu, perak, atau emas. Kalau kami dari atlet ingin meraih yang terbaik lah untuk Asian Games ini," pungkas Tio.

Dengan lawan tangguh seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan serta tantangan kondisi lapangan dan angin, soft tenis Indonesia akan menghadapi ujian berat di Nagoya. Namun, para atlet memilih berangkat dengan optimisme dan menjadikan setiap faktor tersebut sebagai bagian dari tantangan yang harus ditaklukkan. (mcy/krs)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads