Kementerian Pemuda dan Olahraga mengungkap sejumlah capaian selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Capaian tersebut mencakup keberhasilan Tim Nasional Indonesia di ajang sepak bola, perolehan medali Asian Games, serta penguatan kebijakan pembangunan karakter pemuda.
Di bidang sepak bola, Indonesia mencatat sejarah baru setelah berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Thailand melalui adu penalti pada pertandingan final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting bagi kebangkitan prestasi sepak bola nasional sekaligus melengkapi kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capaian positif berlanjut pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 ketika Indonesia berhasil melampaui target empat medali emas dengan meraih lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Selain melampaui target medali, atlet Indonesia juga mencatat sembilan rekor dunia, Asia, dan Asian Games melalui Rahmat Erwin Abdullah, Desak Made Rita Kusuma Dewi, dan Aditya Tri Syahri. Di cabang olahraga panahan, Nurisa Dian Ashrifah turut menciptakan sejarah dengan mempersembahkan medali emas pertama Indonesia sepanjang keikutsertaan di Asian Games.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menilai berbagai capaian tersebut menunjukkan hasil pembinaan olahraga yang terarah, target terukur, dan kolaborasi yang kuat. Ia menegaskan bahwa keberhasilan atlet perlu menjadi fondasi untuk membangun sistem pembinaan berkelanjutan demi meraih prestasi yang lebih tinggi, termasuk di Olimpiade.
"Prestasi ini menunjukkan bahwa ketika pembinaan dilakukan dengan fokus, target yang terukur, dan kolaborasi yang kuat, atlet kita mampu bersaing dan menciptakan sejarah. Kita tidak ingin keberhasilan hanya datang sesekali," ujar Erick dalam pernyataan tertulis, Selasa (20/10/2026).
"Prestasi harus dibangun melalui sistem yang konsisten, mulai dari pembibitan, pembinaan, hingga kompetisi internasional. Karena itu, capaian hari ini harus menjadi fondasi untuk prestasi yang lebih tinggi, termasuk menuju Olimpiade," tambahnya.
Selain memperkuat prestasi olahraga, Kemenpora juga mempercepat transformasi kebijakan kepemudaan menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Upaya tersebut dilakukan melalui penyusunan cetak biru kepemudaan nasional dan Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia yang bertumpu pada tiga nilai utama, yakni patriotik, gigih, dan empatik.
Erick menjelaskan, ketiga nilai tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsa, tangguh menghadapi perubahan dan persaingan global, serta memiliki kepedulian sosial.
Menurutnya nilai-nilai tersebut menjadi landasan dalam mempersiapkan pemuda agar mampu menghadapi tantangan sekaligus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Ia menegaskan bahwa persiapan menuju satu abad Sumpah Pemuda harus berorientasi pada pembentukan generasi yang mampu menentukan masa depan Indonesia. Menurutnya Indonesia membutuhkan pemuda yang patriotik, gigih, dan berempati agar mampu menghadapi tantangan serta membawa bangsa menuju kemajuan.
"Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda, tantangan kita bukan hanya bagaimana mengenang sejarah para pemuda yang mempersatukan bangsa, tetapi bagaimana menyiapkan generasi yang mampu menentukan masa depan Indonesia. Pemuda yang tidak hanya bangga menjadi orang Indonesia, tetapi juga memiliki kemampuan, keberanian, dan kepedulian untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju," jelasnya.
Erick menjelaskan, seluruh transformasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Kemenpora untuk menerjemahkan visi Presiden Prabowo Subianto dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, memperkuat daya saing bangsa, serta menjadikan olahraga dan kepemudaan sebagai investasi jangka panjang.
Menurutnya komitmen tersebut perlu diwujudkan melalui penguatan sistem yang mampu menjaga keberlanjutan prestasi olahraga dan pembangunan karakter generasi muda.
Ia menegaskan bahwa capaian selama dua tahun terakhir perlu diikuti dengan penguatan sistem agar Indonesia terus melahirkan atlet berprestasi dan generasi muda yang mampu membawa bangsa semakin maju.
"Dua tahun ini adalah bagian dari perjalanan transformasi. Kita sudah melihat hasilnya, tetapi pekerjaan kita belum selesai. Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa medali yang kita menangkan hari ini, melainkan seberapa kuat sistem yang kita bangun agar Indonesia terus melahirkan juara dan generasi muda yang mampu membawa bangsa ini maju," pungkasnya.










































