Insiden ini diawali saat sekitar 90-an anggota JakMania berniat menyaksikan final bulutangkis beregu putri antara tim Jakarta menghadapi Jawa Barat. Saat akan memasuki GOR Bulutangkis Stadion Utama Palaran mereka sudah terkendala lantaran tribun penonton sudah terisi penuh.
Setelah bernegosiasi dengan petugas yang berada di sana, JakMania akhirnya diperbolehkan masuk GOR dan mendapat tempat khusus di tribun VIP. Sayangnya mereka tak bertahan lama berada di sana. Entah apa yang menyulut, rombongan JakMania diusir oleh penonton lain dengan ditimpuki botol air mineral.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Amir yang bertugas sebagai Koordinator venue JakMania untuk cabang bulutangkis, salah satu dari truk polisi tersebut nyaris menabrak mereka. Khawatir tertabrak, beberapa anggota JakMania kemudian berteriak.
Saat itulah anggota polisi dari mobil yang lain tiba-tiba turun dan memukuli anggota JakMania menggunakan bambu yang digunakan sebagai tiang spanduk PON.
"Kita di sini lagi tenang jalan ke mobil. Tiba-tiba mereka turun mencabut bambu matahin jadi dua dan dipakai buat mukul," ungkap Amir.
Setidaknya ada empat korban cerdera dari insiden tersebut yakni Merdian (Bekasi), Ardi (Kemayoran), Junaidi (Jelambar) dan Lutfi (Pamulang). Keempatnya sudah mendapat perawatan dan tim medis PON.
Meski mendapat pengalaman buruk, itu tak lantas membuat JakMania jera. Mereka berencana bertahan di Kaltim demi mendukung kontingen Jakarta.
"Kita sih tunggu instruksi aja, kalau koordinator nyuruh pulang ya pulang. Kalu enggak ya bertahan, kita bakal terus kasih dukungan," ungkap Dwi Putra, salah satu anggota JakMania. (din/key)











































