Kisruh ini diawali dengan keputusan wasit yang memutuskan kemenangan mutlak bagi M. Sodik, pesilat Kalimantan Timur atas pesilat DKI Jakarta, Johannes Edi. Saat itu, Sodik menendang jatuh Johannes, yang kemudian dianggap sah oleh wasit pertandingan.
Padahal jika dilihat dari rekaman yang dimiliki oleh ofisial kontingen DKI, tergambar jelas bahwa Sodik yang turun di pencak silat tanding ini mendaratkan pukulan keras yang mengenai rahang Johannes terlebih dahulu. Sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam pencak silat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketidakpuasan ternyata juga berimbas pada penonton yang mayoritas juga kontingen pencak silat dari berbagai daerah. Mereka yang mendukung DKI melempari lapangan dengan botol air mineral.
Seketika saja pertandingan yang berlangsung pada pukul 15.30 WITA itu berubah menjadi kericuhan. Lempar-lemparan antar penonton pun terjadi yang kemudian merembet pada aksi saling pukul. Petugas kepolisian dan keamanan yang datang melerai pun tak bisa mencegah jatuhnya korban.
Kondisi ini berlansung kurang lebih selama 10 menit dan tiga korban dengan luka kepala bocor segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Samarinda. Hingga saat ini, kontingen DKI masih menunggu hasil rapat antara juri, dewan wasit dan ketua pertandingan serta wasit yang memimpin pertandingan itu.
"Pastinya saya sangat kecewa. Walaupun jujur saya menilai pembagian wasit untuk pencak silat ini sudah baik. Namun sepertinya wasit ini tidak menyadari kalau permainan Johannes dan Sodiq ini memiliki speed yang tinggi," komentar manajer pencak silat DKI Aji Antoko.
(arp/arp)











































