Sabtu (2/8/2008), petualangan ke-59 peserta Adventurace dimulai. Berawal dari meeting point di Hotel Santika, Jakarta Barat, para petualang lantas digiring menuju ke kamp pertama di Leuwiliang, Bogor, tempat di mana mereka akan melakukan berbagai aktivitas menantang alam.
Tapi, jauh sebelum mencapai tempat tujuan, mereka sudah terlebih dulu diuji "ketangguhannya". Tak ada bus besar untuk mengangkut mereka ke Leuwiliang, ataupun mobil pribadi yang biasa terlihat di jalan-jalan Jakarta. Yang ada mereka diboyong dengan mengendarai Jeep beratap terbuka. Ada sebanyak 15 Jeep yang membawa peserta menelusuri jalan-jalan ibukota menuju Leuwiliang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jalan menuju Leuwiliang pun tak selamanya mulus. Jalan tol-nya memang bebas hambatan, tapi semakin mendekati Bogor banyak jalan sempit dan berbatu, juga berdebu, menemani. Sesekali Jeep berhenti di pinggir jalan membuat para peserta berkesempatan untuk rileks atau sekadar mengabadikan gambar perjalanan mereka.
"Kita memang enak naik mobil, tapi pesertanya naik Jeep," ujar salah seorang wartawan dalam perbincangannya dengan detiksport di mobil Kijang yang menjadi kendaraan kami.
Tepat pukul 11.30 siang para peserta tiba di base camp Djarum Adventurace. Tak ada vila ataupun kamar, mereka akan tinggal di dalam kemah-kemah yang sudah dibangun. Selain disambut dengan kesenian pencak silat, mereka juga "di-selamat-datangi" oleh gerbang dengan tulisan besar "Welcome to the Battle Ground" terpampang.
Lelah? Mungkin. Tapi, yang jelas para peserta masih sanggup untuk menunjukkan wajah ceria. Mereka pasti tahu bahwa ini barulah awal, masih ada tujuh hari tersisa untuk membuktikan diri mereka mampu menghadapi tantangan alam.
Di Leuwiiang ini para peserta akan menjalani berbagai kegiatan seperti rock climbing, biking, jeeping, hingga canoeing. Nantinya, akan ada puluhan peserta yang dieliminasi--mereka yang memiliki nilai terendah dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
(roz/a2s)











































