Menaklukkan Alam dengan Kaki

Djarum Super Adventurace

Menaklukkan Alam dengan Kaki

- Sport
Selasa, 05 Agu 2008 03:50 WIB
Menaklukkan Alam dengan Kaki
Leuwiliang - Kelelahan dan hampir kehilangan kesadaran, itulah seklumit gambaran dari usaha para peserta Djarum Super Adventurace dalam menaklukkan alam dengan kaki.

Trekathlon menjadi menu kegiatan ke-30 peserta pada gelaran DSA hari ketiga, Sabtu (4/8/2008). Kali ini peserta dibagi ke dalam 10 kelompok yang masing-masing beranggotakan 3 rang. Mereka diharuskan menempuh perjalanan melintasi alam dengan panjang trek yang mencapai 15 km. Semuanya dilakukan dengan berjalan kaki atau berlari--dan sedikit berenang.

Tepat pukul 08.00 WIB pagi pejalanan para peserta dimulai. Dengan membopong ransel di punggung mereka melesat memasuki hutan-hutan yang berada di kaki Gunung Sodong, Leuwiliang. Tak ketinggalan alat-alat seperti headband atau topi juga terlihat menemani beberapa orang peserta, untuk menangkal panas matahari pastinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ujian pertama yang ditemui oleh peserta adalah menyebrangi sungai yang kedalamannya di atas kepala orang dewasa. mau tak mau sungai tersebut pun arus dilalui dengan berenang. Beberapa peserta memang tak menemui kesulitan, namun ada juga yang panik karena arus sungai yang cukup deras sehingga ia membutuhkan bantuan rekan satu timnya untuk sampai ke sebrang.

Lepas dari sungai, peserta pun dihadapkan pada jalur menanjak bukit. Trek yang cukup menguji ketahanan fisik para petualang. Terbukti beberapa peserta ada yang kelelahan dan sedikit-sedikit berhenti untuk mengatur nafasnya.

Di sinilah kekompakan teruji. Detiksport yang berada di belakang salah satu tim peserta yang bernama "Bull" beberapa kali menyaksikan pompaan semangat seorangpeserta kepada rekannya yang tengah kecapaian. "Ayo stabil aja, langkah kecil-kecil kayak jalan biasa," tandas Riky Yudha, peserta dari tim "Bull", menyemangati rekannya yang terlihat lelah.

Ketika jalanan mulai melandai, langkah kaki kecil pun dihilangkan. Kini para peserta berlari untuk menyalip tim lainnya yang berada di depan. "Ayo jalan datar ini, kita lari," ucap Riky.

Lepas dari trek bukit, peserta dihadapkan pada sabana terbuka. Kecepatan lari pun semakin dipacu. Mereka pun memasuki daerah perkampungan warga sebelum akhirnya menyebrangi sungai lagi yang kali ini dalamnya "hanya" sepinggang.

Beberapa cerita terbersit dari kegiatan ini. Dalam obrolannya dengan detiksport, salah seorang official--penjaga pos--bernama Titis menceritakan bagaimana ia menyaksikan salah seorang peserta nyaris kehilangan kesadaran. Peserta itu baru bisa kembali berjalan dengan benar setelah rekannya memampahnya.

"Tadi ada mas yang hampir kehilangan kesadaran, udah nggak fokus dia. Jalannya oleng dan hampir menabak pohon bambu. Temannya langsung ngikutin dan nolong dia," tukasnya.

Ada juga cerita mengenai salah seorang peserta yang akhirnya digotong oleh rekan-rekannya akibat sudah tak kuat lagi berjalan setibanya di pos finis. "Tadi di pos enam juga ada katanya yang digotong sama teman-temannya," tukas Titis lagi. Ketangguhan dan kekuatan fisik memang menjadi yang utama di kegatan ini.

Di akhir kegiatan, eliminasi pun dilakukan bagi tim yang paling terakhir memasuki finis. Kali ini, tim "Bull"-lah yang akhirnya harus "angkat ransel" dari Leuwiliang. Dengan pulangnya tim yang digawangi oleh Riky Yudha, Agus Perdana, dan Reyza Dwifenda itu, DSA kini hanya tinggal menyisakan 27 orang (atau sembilan tim) saja untuk berkompetisi.

(key/ian)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads