Upaya China dalam menggelar upacara pembukaan yang sempurna terbayar penuh. Acara kolosal yang melibatkan puluhan ribu penampil diakhiri dengan aksi 'terbang' Li Ning dalam menyulut kaldron Olimpiade.
Di luar itu, ada cerita tentang Natalie du Toit, pembawa bendera kontingen Afrika Selatan. Du Toit terlihat kalem memimpin ratusan atlet dan ofisial negeri di ujung selatan Afrika itu. Kehormatan itu diemban Du Toit dengan sangat baik meski sebelum parade ia mengaku tegang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lain lagi dengan kisah Lopez Lomong, pembawa bendera kontingen juara bertahan Amerika Serikat. Lomong adalah atlet muda kelahiran Sudan yang pernah sudah dianggap meninggal oleh keluarganya.
Lomong, terlahir sebagai Lopepe Lomong, diculik ketika sedang mengikuti misa di gereja pada usia enam tahun. Di tengah perang saudara yang sedang berkecamuk hebat, keluarga Lomong menganggap si bocah sudah meninggal dan menyelenggarakan upacara pemakaman tanpa kehadiran jenazahnya.
Lomong nyaris tewas dalam penyanderaan itu. Namun bocah kelahiran 1 Januari 1985 itu berhasil melarikan diri dan kemudian terdampar nyaris selama 10 tahun di sebuah kamp pengungsi di Kenya sebelum akhirnya hijrah ke AS lewat jasa sebuah lembaga kemanusiaan Katolik. Lomong kemudian jadi warganegara AS tahun 2007.
Senyum lebar penuh kebahagiaan ditunjukkan Lomong ketika ia membawa The Stars and Stripes di hadapan puluhan ribu orang di Stadion Nasional Beijing, Jumat (8/8/2008) malam. "Saya merasa terhormat," ujarnya kepada Reuters.
Berdefile di urutan terakhir adalah kontingen China, kontingen tuan rumah yang jumlahnya paling besar dibanding semua kontingen lain. Dipimpin oleh pebasket Yao Ming, kontingen yang memakai pakaian berwarna kuning dan merah (warna yang dianggap membawa energi positif) itu mendapat sambutan meriah dari publik Beijing.
Dengan tinggi 228 cm, Yao tampak menjulang dan outstanding mengawali barisan atlet Negeri Tirai Bambu. Tapi yang membuat perhatian terbetot adalah berjalannya seorang anak di samping Yao.
Bocah itu adalah Lin Hao. Dibanding Yao yang tampak seperti raksasa, badan kecil Lin yang baru berusia sembilan tahun bagaikan liliput. Senyum lebar ia kembangkan seraya mengibar-kibarkan bendera China yang berada di tangannya.
Lin Hao adalah salah satu korban selamat dari gempa hebat yang melanda Propinsi Sichuan pada 12 Mei lalu. 20 dari 30 teman sekelas Lin tewas akibat tertimpa gedung sekolah yang runtuh diguncang gempa dengan besar 7,9 Moment-magnitude Scale itu.
Lin yang juga sempat terjebak reruntuhan kemudian berhasil membebaskan diri. Yang hebat, Lin lantas kembali ke reruntuhan untuk mencari teman-temannya. Ia mengajak teman-temannya yang masih terjebak untuk menyanyi untuk menyemangati mereka sementara petugas mencoba menyelamatkan mereka.
Deretan mereka yang menjadi sorotan di pembukaan Olimpiade kali ini memiliki banyak kesamaan. Mereka memberi contoh tentang keberanian manusia melawan rasa takut dan keluar dari belenggu keterbatasan serta terus mencoba meraih mimpi meski keadaan kadang tidak mendukung.
(arp/krs)











































