"Kalau dunia mau menarik pelajaran dari yang saya lakukan ini, maka takkan pernah ada perang," demikian pesan perdamaian yang keluar dari mulut Salukvadze, setelah ia meraih medali perunggu di cabang menembak nomor 10m air pistol.
Yang dilakukan atlet berusia 38 tahun itu adalah memeluk Paderina, dan keduanya saling menyentuhkan pipi mereka setelah melewati final dramatis, Minggu (10/8/2008), ketika petembak tuan rumah Guo Wenjung bangkit dari ketinggalan dan merebut medali emas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat serangan tersebut kontingen Georgia sempat mengancam mundur dari Olimpiade. Namun Presiden Mikheil Saakashvili telah berpesan agar mereka bertahan. Pesan itu disampaikan dalam sebuah pertemuan pukul 2 dinihari waktu setempat oleh Ibu Negara yang sedang berada di Beijing.
Salukvadze, yang berkat pesan tersebut tetap tampil dan meraih perunggu, sempat menitikkan airmata ketika ia merundukkan pistolnya setelah melakukan tembakan terakhir dan penonton memberinya tepuk tangan.
"Kita ini hidup di abad 21," ujarnya. "Tidak semestinya kita membungkuk terlalu rendah untuk melancarkan perang terhadap perang antarsesama."
"Selama kita senantiasa bertukar peluk dan cium, saya melakukannya dengan banyak teman. Saya punya banyak teman di seluruh dunia dan akan selalu melakukannya. Tak boleh ada kebencian di antara atlet dan semua orang," tutur peraih satu emas dan satu perak di Olimpiade 1988 itu, seperti dikutip Reuters.
Salukvadze juga mendedikasikan medalinya itu buat warga Georgia. "Ini sebuah kemenangan kecil untuk orang-orangku," katanya, sebelum melemparkan pandangannya kepada Paderina, lalu melanjutkan: "Di dunia olahraga kita akan selalu menjadi teman, dan takkan ada yang mempengaruhi pertemanan kami, sekalipun menembak adalah event yang menakutkan."
Paderina, yang duduk bersebelahan dengan Salukvadze saat berbicara di depan wartawan, mengakui pertemanan mereka.
"Kami memang berkawan. Kami pernah cukup lama menembak bersama. Dia pernah menembak untuk (Uni Soviet). Kami sungguh-sungguh berteman dan tak mau mencampuradukkannya dengan politik. Olahraga bukanlah politik," tukas Paderina.
(a2s/a2s)











































