detiksport
Follow detikSport
Selasa, 12 Agu 2008 01:07 WIB

Triyatno

Humoris yang Bercita-cita Belajar Bahasa Inggris

- detikSport
Jakarta - Menggeluti olahraga keras seperti angkat berat tak membuat Triyatno punya sikap tak bersahabat. Dia justru terkenal humoris, dengan cita-cita yang bersahaja: belajar bahasa Inggris.

Setelah kemarin Eko Yuli Irawan menyumbang medali pertama untuk Indonesia, hari ini isi kantong medali kontingen Indonesia kembali bertambah. Triyatno menjadi pahlawan kedua Merah Putih di Beijing setelah merebut medali perunggu di kelas 62 kg.

Dalam pertandingan yang berakhir Senin (11/8/2008), Triyatno mencatatkan total angkatan 298 kg. Di nomor snatch ia mengangkat beban terberat 135 kg, sedangkan di clean & jerk 163 kg.

Memang cuma medali perunggu yang didapat, namun apa yang diraih pria kelahiran 20 Desember 1987 itu menjadi hiburan yang sangat menyenangkan setelah beberapa jam sebelumnya kita menerima berita menyesakkan soal tersingkirnya Taufik Hidayat. Lebih dari itu, sukses yang diraih Triyatno adalah sebuah pembuktian lain dari kiprah Indonesia di ajang sekelas Olimpiade.

Saat berangkat ke Beijing, tak ada target khusus dibebankan pada pundak Triyatno. Tapi bukan berarti dia tak pernah berprestasi karena namanya juga beberapa kali mengharumkan Indonesia di pentas dunia.

Di Kejuaraan Dunia Junior tahun 2007 lalu di meraih prestasi luar biasa dengan meraih medali perak , total angkatannya saat itu mencapai 300 Kg. Hasil tersebut merupakan peningkatan dari yang diraih tahun sebelumnya saat dia duduk di posisi sembilan.

Sementara Pada SEA Games 2007, emas kelas 62 kg bisa di gondol dengan angkatan total 290 kg, torehan yang membuatnya menyamai rekor SEA Games. Sementara di tingkat lokal tiga rekor nasional berhasil dia pecahkan di PON Kalimantan Timur lalu.

Lahir dari keluarga petani, Triyatno sadar betul kalau kisah sukses yang didapatnya kini tak akan bertahan lama. Dengan masih minimnya perhatian pemerintah pada atlet, dia layak khawatir profesi sebagai lifter tak akan bisa menjadi penopang hidupnya untuk jangka panjang.

Maka rencana masa depan pun sudah disusunnya sejak jauh hari. Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi adalah cita-cita terbesarnya kini, sementara jurusan yang ingin digelutinya adalah bahasa Inggris.

"Saya ingin berkenalan dengan atlet-atlet dari negara lain, tetapi selalu terkendala masalah bahasa," ujarnya suatu ketika.

Seorang anak tukang becak dan putra keluarga petani sudah menyumbangkan medali dan memberi kebanggan besar buat Bangsa Indonesia. Siapapun atletnya dan di cbang apapun dia berlaga, kita tentu masih sangat berharap medali-medali lain akan terus masuk menambah isi kantong kontingen Merah Putih.

(din/roz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed