Medali emas di nomor lari 100 dan 200 meter sukses diraih sang pelari Jamaika di gelaran Olimpiade 2008. Keduanya diraih dengan menorehkan rekor dunia baru.
Hasil itu, menurut Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Jacques Rogge, menyejajarkan Bolt dengan pelari legendaris AS Jesse Owens. Owens menjadi salah satu nama besar di Olimpiade dengan memenangi empat medali emas pada Olimpiade tahun 1936 di Berlin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bolt memang telah meraih kemenangan dengan jarak cukup jauh dari para pesaingnya saat meraih kemenangan. Di masa depan, menurut Rogge, nama Bolt bisa kian menjulang jika dia mampu terus mempertahankan prestasinya.
Akan tetapi bak peribahasa tiada gading yang tak retak, pujian Rogge terhadap talenta Bolt juga dibarengi kritik menyoal perilakunya yang dinilai kurang simpatik.
"Saya pikir dia seharusnya lebih menunjukkan rasa hormat, menyalami, memberikan tepukan (hiburan) di pundak lawan-lawannya. Bukannya memamerkan gaya seperti yang ditunjukkannya saat di 100 meter," kritik Rogge.
Dalam kemenangan yang diraihnya dengan meyakinkan itu, Bolt menepuk dada pertanda kemenangan bahkan sebelum melewati garis finis. "Dia masih harus lebih dewasa. Saya akan senang sekali jika dia lebih menunjukkan rasa hormat kepada para kompetitornya. Dia harus belajar bahwa dia harus bersalaman dengan kompetitor."
"Saya memahami keceriaannya. Dia mungkin memaksudkannya sebagai hal yang lain, tapi dalam satu hal itu bisa dilihat sebagai 'kejar saya kalau mampu'. Anda tak boleh melakukan itu," papar Rogge.
Meski begitu Rogge membela tindakan Bolt dikarenakan usianya yang masih belia. Pada hari ini, 21 Agustus 2008, pelari tersebut baru genap berusia 22 tahun.
"Dia adalah seorang pemuda. Bolt akan belajar cepat atau lambat. Tentu saja dia adalah atlet hebat," pungkas Rogge.
(krs/din)











































