detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 18 Sep 2018 12:18 WIB

Tembakan Tiga Angka Donald Santoso Dari Kursi Roda

Mercy Raya - detikSport
Foto: Ari Saputra/detikSport Foto: Ari Saputra/detikSport
Jakarta - Donald Santoso cedera parah saat SMA. Terpuruk saat kehilangan kemampuan berlari, melompat, dan komunitas, tapi kini dia 'hidup' lagi dengan basket kursi roda.

Tembakan-tembakan three point Donald bikin kami yang menonton bukan lagi terpesona, tapi sudah sampai pada tahapan kesal. kesal dengan diri sendiri kenapa kami tak sanggup melakukannya.

Ya, dia gampang saja membuat tembakan tiga poin. Padahal, Donald melakukannya tanpa lompatan. Dia juga tak bisa bebas memindahkan badannya.

Donald duduk di atas kursi roda.

Tembakannya akurat, pergerakannya cepat dan lincah.

Kursi roda di atas lapangan beton di kawasan BSD, Tangerang itu dikendalikannya tanpa canggung. Bahu dan tangannya amat kuat.

Padahal, dia masih bisa berdiri dan berjalan pelan. Tapi kelincahannya di atas kursi roda bikin geleng-geleng kepala. Ditambah, itu tadi, tembakan tiga angka ke dalam ring di lapangan beton itu.

"Saya cuma tak bisa melompat, enggak bisa berlari," kata Donald, 29 tahun, dalam wawancara One on One detikSport.




Cedera parah 12 tahun lalu yang membuat pergerakan Donald terbatas. Dia cedera saat berlatih menjelang pertandingan antar SMA di Jakarta. Dia mendengar 'krak' saat melompat dan muncul rasa sakit. Tapi, mengabaikannya. Dalam hatinya, dia bilang,"Paling-paling cedera biasa. Sakitnya pun biasa saja."

Donald masih percaya diri untuk turun sebagai starter saat pertandingan bergulir. Tapi, pada detik pertama mendapatkan bola, kakinya layu. Kakinya tak bisa diangkat.

Barulah Donald menyadari cedera yang membekapnya bukan cedera biasa. Dia menepi. Setelah berkompromi dengan pelatih dia tak turun lagi. Donald menuju rumah sakit. Check-up.

Dokter menyatakan lututnya bermasalah. Dia harus menjalani operasi. Rencana detail dari tim dokter diterimanya dengan harapan lututnya bisa normal kembali. Dia bisa berlari lagi, melompat lagi, dan bermain basket lagi.




"Dokter merencanakan ada operasi, ada opsi, ada rehab begini. Nantinya hasilnya 70-90 persen bisa begini. Selalu ada plan. Tapi, plan selalu ganti," ujar Donald.

Kesalahan itu membuat Donald frustrasi. Dia ingin sembuh. Dia ingin aktif lagi.

Di saat bersamaan mentalnya menurun. Periode paling krusial dirasakannya saat kehilangan komunitas. Dia merasa sendirian. Dia terluka melebihi kegagalan membuat three point dalam sebuah pertandingan.

"Masa itu drama banget. Kan masih SMA," ujar dia.

Keluarga dan Donald terus mengupayakan untuk pemulihan. Setelah operasi ketiga, Donald memutuskan kembali ke Amerika Serikat (AS), negara yang sudah diakrabinya. Di sanalah neneknya tinggal. Dia juga sempat menghabiskan sebagian masa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Negeri Paman Sam itu.




Donald pun mendaftar ke studi S1 di Burkeley University of California. Saat kuliah di situlah, Donald mendapatkan jalan terang. Kampus memiliki tim basket kursi roda.

Tapi kali ini 'tembakannya' gagal. Dia belum masuk kualifikasi disabilitas.


Tembakan Tiga Angka Donald Santoso Dari Kursi RodaFoto: Ari Saputra/detikSport


Kembali terluka, Donald mencoba untuk terus memulihkan lututnya. Tapi, jauh panggang dari asap. Lagi, lagi operasinya gagal.

"Pendeknya, enam kali saya operasi, enam kali operasi itu gagal," ujar Donald.

Kegagalan itu membuka pintu lain. Saat melanjutkan S2 di Arizona State University--setelah menjalani lima kali operasi--Donald memenuhi kualifikasi disabilitas.

Awlanya cuma gabung latihan, lama-lama Donald masuk tim dan dipercaya sebagai kapten tim universitas. Dua tahun membela tim kampusnya, Donald mendapatkan tawaran bergabung dengan klub dan menjadi salah satu skuat tim basket kursi roda Phoenix Suns.

Dua tahun bersama-sama Phoenix Suns, Donald pulang kampung. Saat kembali ke Indonesia pada 2017, dia berkomunikasi dengan National Paralympic Committee (NPC) untuk membangun timnas basket kursi roda. usulan diterima. Timnas terbentuk. Donald menjadi kapten.

"Ini menjadi kebanggaan bagi kami karena kamilah timnas basket kursi roda pertama di Indonesia. Kami harus jalan. Kami harus saling mendukung. Kami tahu, kalau satu saja pemain yang ada di timnas enggak hadir, program enggak jalan," ujar Donald.

Pemanasan pertama dijalani dengan hasil yang menjanjikan. Indonesia menjadi runner-up pada test event Asian Para Games 2018 di Jakarta.

Kini, mereka ditunggu sebuah ajang bergengsi untuk atlet disabilitas se-Asia, Asian Para Games 2018 mulai 6-13 Oktober di Jakarta. Menjadi peserta sekaligus tuan rumah.

"Persiapan saat ini sudah 100 persen, tinggal mematangkan teknik," ujar dia.

Satu tembakan lagi seharga three point sedang disiapkan Donald dan rekan-rekannya di timnas basket. Donald ingin mengajak masyarakat untuk tak menatap belas kasihan kepada mereka.

"Ini hanya rintangan seperti yang orang lain hadapi. Bisa jadi yang lain terhalang keuangan, keluarga, sedangkan kami terhalang fisik," ujar dia.


(fem/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed