detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 05 Mei 2020 22:00 WIB

Michael Jordan dan Kecanduannya pada Judi

Mohammad Resha Pratama - detikSport
PARIS, FRANCE - JUNE 12: In this handout image provided by Jordan Brand, Michael Jordan paid a visit to Palais 23 this afternoon on Friday June 12, Joined by his frequent partners-in-design Tinker Hatfield and Mark Smith, key figures in the 30-year evolution of the Air Jordan, Jordan has returned to Paris to mark the 30th anniversary of 1985s Air Jordan One. Palais 23 is a spectacular tribute to the shoes, moments, designs and artifacts that have shaped the 30-year evolution of the Air Jordan. (Photo by Jordan Brand via Getty Images) Michael Jordan di bali kehebatannya ternyata juga punya sisi buruk, kecanduan judi (Jordan Brand via Getty Images)
Chicago -

Selalu ada kontroversi yang mengiringi atlet hebat manapun, tak terkecuali Michael Jordan. Tak cuma gemar mencetak angka, Jordan juga kecanduan berjudi.

Jordan sejak kemunculannya di Chicago Bulls pada 1984 memang sudah membetot perhatian publik. Meski gagal membawa Bulls juara di tujuh musim perdananya, Jordan dianggap sebagai bintang NBA saat itu, menggantikan bintang 80-an seperti Magic Johnson dan Larry Bird.

Sampai Jordan akhirnya meraih gelar NBA pertamanya di tahun 1991, namanya kian melambung dan tentunya pundi-pundi uangnya makin tebal. Dengan kekayaannya itu, Jordan bisa melakukan apapun yang dimaunya termasuk berjudi.

Kebiasaan buruk Jordan itu diketahui publik pada tahun 1991 saat gembong narkoba James 'Slim' Bouler dihukum sembilan tahun penjara. Dalam persidangan Bouler, nama Jordan terseret karena kasus cek senilai 57 ribu dolar AS. Jordan saat itu punya hobi bermain golf dan kerap membeli alat di toko milik Bouler.



Pada bulan Mei tahun 1993, rekan golf Jordan, Richard Esquinas, membuat pengakuan dalam buku yang ditulisnya berjudul Michael and Me: Our Gambling Addiction. Jordan disebut berutang 1,25 juta dolar AS karena kalah taruhan golf.

Reputasi Jordan sebagai penjudi kian membuatnya dalam tekanan saat ketahuan bermain judi di Atlantic City, New York, bersama ayahnya. Padahal saat itu Bulls tengah menghadapi New York Knicks di final Wilayah Timur.

Jordan pulang larut malam sehingga mempengaruhi performanya keesokan hari di game kedua final. Bulls kalah dan tertinggal 0-2, sementara Jordan cuma berhasil memasukkan tiga attempts dari 18 kali percobaan.

Namun, Jordan membayar lewat performa apik di enam gim selanjutnya untuk membawa Bulls menang 4-2 dan melaju ke final NBA. Di final, Bulls dibawanya jadi juara untuk tiga musim beruntun.



"Saya tidak pernah masang untuk pertandingan. Saya cuma berjudi untuk diri sendiri, dan itu golf. Apakah saya suka main blackjack? Tentu saja... Liga pernah memanggil saya dan menanyakan itu. Lalu saya bilang kepada mereka," ujar Jordan dalam pengakuannya di dokumenter The Last Dance.

"Saya tidak pernah bermasalah dengan judi. Saya bisa kok berhenti judi. Saya cuma masalah pada pertandingan. Saya ketagihan menang."

"Saya menikmati itu (berjudi), itu hobi. Jika memang bermasalah, saya tentu akan kelaparan. Saya akan menggadaikan jam ini, cincin juara, saya akan menjual rumah saya. Istri saya tentu akan pergi atau dia akan kelaparan. Saya tidak punya masalah kok, saya menikmati judi," papar Jordan dalam wawancara lain dengan Ahmad Rashad.

Jordan memang sempat diinvestigasi terkait dugaan judi ilegal, tapi kasus itu tidak pernah selesai karena Jordan pensiun pada Oktober 1993. Setidaknya Jordan membuktikan kalau judi itu memang sekadar hobi dan di masa pensiunnya kini, dia tinggal menikmati harta berlimpah yang didapatnya dari basket.



Simak Video "Air Mata Michael Jordan Teruntuk Kobe Bryant"
[Gambas:Video 20detik]
(mrp/yna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com