Di Sirkuit Catalunya, Barrichello tampak akan memenangi lomba ketika ia memimpin balapan di awal. Tetapi pembalap Brasil itu harus kehilangan gelar yang akhirnya disabet rekan setimnya, Jenson Button.
Kemenangan lepas dari tangan pembalap Brasil itu karena Brawn mengubah strategi untuk Button. Pembalap Inggris itu menjalani dua stop, sedangkan Barrichello tetap dengan tiga stop.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengalaman saya bersama Rubens adalah tanpa diragukan lagi dia akan merasa kecewa, namun hanya untuk 24 jam. Dia akan datang ke Monako dengan lebih ceria dan bersemangat untuk menang," ujar Fry dikutip Autosport.
Barrichello wajar bersemangat karena ia belum pernah menjuarai GP Monako. Di sirkuit jalanan nan sempit itu, prestasi terbaik pembalap 35 tahun itu adalah dua kali jadi runner-up.
Tahun 2000, Rubinho yang menggeber Ferrari finis kedua di belakang David Coulthard. Setahun berikutnya, giliran Michael Schumacher, rekan setimnya di Prancing Horse, yang menjadi juara di depannya.
"Seorang pembalap tidak akan terus membalap di F1 selama dia tidak memiliki determinasi. Rubens akan sangat berdeterminasi untuk memenangi balapan di Monako," tutup Fry optimistis.
(arp/din)











































