Berakhirnya Era Si Kontroversial Mosley

Berakhirnya Era Si Kontroversial Mosley

- Sport
Jumat, 23 Okt 2009 04:14 WIB
Berakhirnya Era Si Kontroversial Mosley
Paris - Rezim lama dan kontroversial seorang Max Mosley dipastikan segera berakhir hari Jumat (23/10/2009) ini. Figur penggantinya adalah mantan bos Ferrari Jean Todt atau eks juara dunia reli Ari Vatanen.

Mosley, yang kehidupan pribadinya menjadi sangat heboh tahun lalu, ketika melakukan seks sado-masokis dengan pelacur, terang-terangan mendukung Todt untuk menjadi suksesor dirinya, memimpin International Automobile Federation (FIA).

Presiden FIA adalah posisi paling kuat di dunia motorsport dan Todt, yang juga mendapat dukungan dari bos Formula 1 Bernie Ecclestone, disebut-sebut sebagai favorit pada pemilihan yang diadakan di Paris hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, Vatanen pun tak bisa dipandang remeh. Kampiun Reli Paris Dakar empat kali itu mendapat sokongan dari pabrikan-pabrikan Formula 1 dan musuh-musuh Mosley. Mantan anggota parlemen Eropa asal Finlandia itu mengibarkan sebuah platform perubahan dan transparansi untuk "membersihkan" era Mosley.

"Dalam dua tahun terakhir kita telah menghabiskan lebih banyak waktu pada pertarungan ketimbang hal-hal mendasar," ujar Vatanen ketika mengumumkan pencalonan dirinya. "Harus saya katakan, kita harus melakukan rekonsiliasi."

Todt, yang punya rekor mengagumkan selama menjadi orang reli dan F1, telah menegaskan dirinya bukan orang Mosley.

"Saya siap untuk memulai dari sebuah kertas putih di semua level," tutur pria Prancis berusia 63 tahun itu kepada situs autosport.com bulan lalu.

Mosley lengser

Sementara Vatanen dan Todt akan bertarung untuk masa depan, Jumat ini akan lebih tersorot pada lengsernya Mosley dari sebuah posisi yang ia pegang sejak 1993, melewati beberapa tahun penuh gejolak di kancah F1.

"Saya akan menawarkan saran hanya kalau secara khusus diminta. Waktu untuk saya mundur sudah tiba dan saya akan menikmati hidup dengan lebih tenang," tulis pria 69 tahun itu kepada anggota senat FIA.

Seorang Britania anak seorang pemimpin fasis di tahun 1930-an Oswald Mosley, pengacara lulusan Oxford itu membuat banyak gelombang sejak dia tiba di Formula 1 selama lebih dari 40 tahun, sebagaimana dia adalah pendiri March Engineering, sebuah konstruktor Formula 1 dan pabrikan mobil-mobil balap dari Inggris.

Dia dan Ecclestone, walaupun dari latar belakang yang sangat berbeda, telah menguasai dunia itu sebagai sahabat, partner, dan makelar tangguh sejak awal 1970-an.

Ditulis Reuters, presiden FIA itu memiliki sejarah taktik 'carrot-and-stick', yang menganjurkan sesuatu yang tidak mengenakkan sebelum mendapatkan apa yang dia mau di tempat pertama, dan dia berulang kami melakukannya dalam beberapa tahun terakhir untuk menekankan perlunya memangkas ongkos operasional.

Selama kepemimpinannya, olahraga motosport khususnya F1 mengalami naik-turun soal keselamatan, juga hal-hal yang menjurus pada self-destruction.

McLaren, misalnya, dijatuhi rekor denda 100 juta dolar AS atas kontroversi mata-mata di tahun 2007, sementara Renault diberi dihukum percobaan dua tahun karena pengaturan balapan di GP Singapura 2008.

Tewasnya juara dunia tiga kali Ayrton Senna dan pembalap Austria Roland Ratzenberger di Imola pada tahun 1994 juga menjadi bukti sebuah momen tegas dalam kepemimpinan Mosley.

Dia mungkin dipandang sebagai sesosok paria (sampah masyarakat) di paddock setelah skandal seks di tahun lalu, tapi berkat Mosley pula tidak ada lagi pembalap Formula 1 yang meninggal saat balapan sejak 1994. (a2s/arp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads