Balapan Korsel yang merupakan balapan F1 kesembilan yang digelar di Asia pada tahun ini juga merugi sekitar 50 juta dolar AS di tahun pertama penyelenggaraannya pada 2010.
Kendati sejauh ini terus merugi, Korsel tetap yakin bahwa balapan F1 ke depannya akan membawa dampak yang menguntungkan negara itu sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampak jangka panjangnya event F1 akan membawa keuntungan pada negara ini. Itu tidak hanya membuka jalan bagi industri mobil Korsel di masa depan namun juga membantu perkembangan industri baru."
Korsel sendiri memiliki kontrak awal selama tujuh tahun untuk menggelar balapan F1, dengan opsi perpanjangan lima tahun yang akan membuatnya tetap menyelenggarakan balapan hingga 2021.
Permasalahan kerugian ini hanya menjadi salah satu dari berbagai masalah yang menghinggapi GP Korsel. Bahkan balapan ini sudah bermasalah sebelum dibuka dua tahun lalu, ketika konstruksi sirkuit Yeongam baru rampung tepat saat balapan debutnya digelar.
Panitia balapan Korsel telah mengungkapkan ketidakpuasan pada syarat-syarat di dalam kontrak mereka dengan F1, terutama terkait dengan biaya sanksi-balapan. Akan tetapi, keluhan itu tidak digubris oleh supremo F1 Bernie Ecclestone.
Penyelenggaran balapan F1 di Korsel berbanding kontras dengan balapan yang digelar negara tetangganya, Jepang yang selalu sukses dan selalu laris ditonton oleh 120 ribu orang di sirkuit Suzuka.
"Dibandingkan saat periode bencana, segalanya menjadi sedikit lebih sulit tapi kami memiliki 103 ribu di setiap hrai balapan tahun ini," ucap Yoshihisa Ueno, juru bicara Suzuka.
"Tahun lalu dengan bencana (tsunami dan nuklir), jumlah penonton sedikit menurun tapi tahun ini sukses," imbuh dia.
GP Jepang selalu digelar sejak 1987 di Suzuka, kecuali pada kurun waktu dua tahun dari 2007-2008 yang menempati sirkuit Fuji Speedway.
Foto: Sebastian Vettel (Red Bull) pemenang GP Korsel dalam dua tahun terakhir (Getty Images/Mark Thompson)
(rin/a2s)











































