Harapan yang Tak Terwujud

Rahasia Schumi III

Harapan yang Tak Terwujud

- Sport
Minggu, 26 Nov 2006 02:43 WIB
Harapan yang Tak Terwujud
Munich - Sebagai pembalap Jerman, Michael Schumacher punya satu keinginan yang tak sempat terealisasi: membalap untuk tim yang juga berasal negaranya. McLaren Mercedes?Walau sempat membela tim Jordan dan Benneton, namun tak bisa disangkal kalau Schumi begitu identik dengan Scuderia Ferrari. Itu bisa dipahami, selain lebih banyak menghabiskan karirnya bersama di "Kuda Jingkrak", lima dari tujuh gelar Schumi juga didapat bersama tim Italia itu.Meski begitu Schumi tak bisa menyangkal kalau dirinya sempat tertarik untuk membela tim yang "beraroma" Jerman, apalagi kalau bukan McLaren yang disokong mesin asal Jerman, Mercedes. Malah disebutnya pembicaraan kontrak dengan McLaren sempat terjadi di musim 1995 namun tak menemui kata sepakat. "Saya sempat melakukan beberapa pembicaraan dengan pertemuan dengan McLaren-Mercedes, salah satunya di Monte Carlo tahun 1995 tapi saya sadari kalau kami tak cocok.""McLaren, atau saya katakan sejujurnya bos McLaren Ron Dennis (adalah masalahnya). Dengan Mercedes semuanya berjalan lancar dan kami menemukan jalan yang sama. Ron Dennis punya pandangan sendiri soal bagaimana sebuah tim F1 berjalan," sahut Schumi dalam wawancaranya dengan harian Jerman Suddeutsche Zeitung.Schumi memang punya hubungan spesial dengan Mercedes. Bahkan bisa dibilang Mercedes merupakan jalan pembuka bagi Schumi sebelum melangkah ke F1 dengan mengikuti program pembalap junior di event World Sports-Prototype Championship tahun 1990 dengan bergabung di tim Sauber-Mercedes. Kerjasama dengan Mercedes terus berjalan hingga musim 1991 saat ia ikut bersaing di Formula 3000 Jepang dan German Touring Car Championship.Tapi pria yang tahun ini genap berusia 37 menolak anggapan yang menyebut ia enggan pindah ke McLaren karena selalu menuntut dijadikan pembalap nomor satu, seperti yang ia rasakan bersama Ferrari"Saya tak pernah menuntutnya, baik di lembar kontrak maupun secara verbal sepanjang karir saya. Menurut saya: di awal musim kedua pembalap mendapat segalanya secara adil dan berimbang. Tapi kemudian akan diketahui satu pembalap yang lebih cepat, dan tim memang seharusnya mendukungnya," tutup Schumi. (din/lom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads