Catatan dari Sepang
SPG Jadi Incaran
Minggu, 08 Apr 2007 02:42 WIB
Sepang - Jangan sekali-kali datang menyaksikan seri F1 tanpa membawa kamera. Selain bakal kehilangan momen-momen unik, kesempatan berpoto dengan sales promotion girl (SPG) yang seksi juga bisa menguap begitu saja.Di tengah panasnya suhu udara Sepang, sebotol air memang akan memberi kesejukan saat mengalir membasahi kerongkongan. Tapi suasana sejuk tak cuma datang dari air mineral, cola atau jus yang bisa anda beli di sekitar Welcome Area.Setelah berjalan sekitar 300 meter dari tempat parkir ditemani sinar terik matahari yang membakar kulit, melihat Welcome Area.dari jarak jauh tak bisa disangkal mampu membangkitkan kembali semangat. Adrenalin yang mulai meninggi tak sabar melihat adu kejar antarjet darat menjadi alasan pertama. Yang kedua -- namun tak kalah memacu degap jantung -- adalah senyuman ramah para SPG yang menawarkan berbagai produk, yang tentunya terkait gelaran F1.Gerutuan akan teriknya matahari mau tak mau berubah menjadi senyum penolakan dibarengi ucapan no thanks saat seorang SPG ber-dodot biru dan rok mini putih mendatangi saya menawarkan headphone untuk mengurangi bisingnya deru mesin F1 saat menyaksikan dari pinggir lintasan.Memasuki Welcome Area, "pemandangan" tadi semakin umum terlihat. Belasan SPG wara-wiri menawarkan berbagai produk, meski juga yang sekadar membawa bendera atau umbul-umbul perusahaan yang mempekerjakannya.Mungkin sudah letih berkeliling dan menghabiskan banyak frame berbau F1 di kamera digitalnya, beberapa orang mengalihkan perhatiannya pada dara-dara seksi itu. Awalnya cuma dua-tiga orang yang mengambil gambar, tapi makin lama jumlahnya makin banyak, malahan dibarengi foto bersama.Tak perduli masih muda atau sudah masuk paruh baya, warga lokal, bule, maupun dari Indonesia, banyak yang meminta gantian difoto bersama. Mungkin karena sudah tugasnya melayani customer -- meski entah si peminta foto itu belanja atau tidak -- para SPG itu tetap ramah melayani permintaan fans-fansnya."Ini pasti disimpan di komputer kantor, gak mungkin disimpen di komputer rumah," kelakar seorang penonton Indonesia yang disambut tawa teman bicaranya. (din/a2s)











































