Sebelum kompetisi musim lalu bergulir, nama Hamilton belum terlalu mencuri perhatian. Tapi aksinya di atas lintasan lantas begitu mencengangkan. Mungkin sulit untuk menyamai atau bahkan melebihi standar yang sudah ditorehkan pembalap McLaren tersebut. Namun peluang tetap ada di tangan beberapa rookie di musim 2008.
Predikat debutan mungkin sulit dilekatkan buat Sebastian Bourdais. Pembalap Prancis 29 tahun ini sudah kaya pengalaman dan telah punya nama di Amerika Utara setelah menjuarai Champ Car selama empat tahun beruntun, dari tahun 2004 sampai 2007. Namun secara teknis andalan Scuderia Toro Rosso (STR) ini memang masih debutan di arena "Jet Darat".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi tak seperti Bourdais yang punya pengalaman segudang, Nakajima masih relatif hijau di dunia balapan. Beruntung pembalap 23 tahun itu menghuni Williams yang kini memiliki mobil anyar, FW30, yang terlihat meyakinkan. Hal itu bisa jadi modal bagus untuk peraih Rookie of the Year di GP2 tahun lalu tersebut dalam mengais poin.
"Saya harus lebih meningkatkan diri di setiap aspek. Saya pikir di kualifikasi saya lebih baik. Satu-satunya pertanyaan, apa bisa melakukannya di balapan. Akan sedikit lebih sulit tapi nanti akan terbiasa seiring dengan pengalaman," ujarnya kepada Planet F1.
Memiliki ayah yang merupakan seorang pembalap, apalagi yang tenar, tak selalu menyenangkan. Alih-alih termotivasi, jangan-jangan malah bisa terbebani, karena derasnya sorotan dan ekspektasi. Selain Nakajima, hal tersebut dialami Nelson Angelo Piquet, putra tiga kali juara dunia F1 Nelson Piquet.
Pada musim 2006, pemuda Brasil yang lahir di Jerman 22 tahun silam itu bertarung ketat dengan Lewis Hamilton di ajang GP2, di mana Piquet Jr akhirnya kalah dengan selisih hanya 12 angka. Sayang selepas itu keduanya beda jalan. Kalau Hamilton sedang berkilau terang, Nelsinho justru hanya jadi test driver Renault.
Peluang untuk kembali bertarung dengan Hamilton di lintasan kini terbuka lagi setelah dia dipromosikan untuk mendampingi Fernando Alonso di Renault. R28 milik tim tersebut memang tak sejajar dengan MP4-23 McLaren, namun siapa tahu pengalaman dan pengetahuan Alonso, sang juara dunia dua kali, bisa bikin prestasi Piquet Jr terdongkrak.
"Saya hanya perlu mengikuti dan belajar dari orang ini (Alonso) bukan mencoba mengalahkannya dari awal. Saya perlu mendengar, mengikuti dan kadang ada di depan kalau punya strategi atau mobil yang lebih bagus," kata Nelsinho pada Daily Express.
Sementara bagi Timo Glock, berbeda dengan Nelsinho, F1 bukanlah kompetisi yang benar-benar asing. Tahun 2004 silam dia pernah membela tim Jordan Ford dalam empat seri. Nama pria 25 tahun itu juga tercatat sebagai segelintir pembalap yang langsung mendulang poin dalam balapan pertamanya --poin dicatatkan dengan finis di posisi tujuh dalam GP Kanada.
Usai musim itu tuntas, nama pria Jerman itu menghilang dan banyak yang berprediksi kalau Glock sudah menutup episode F1-nya. Keliru, karena kini dia kembali untuk tampil satu musim penuh bersama Panasonic Toyota Racing. "Perasaan ini cukup emosional karena ketika Anda keluar dari F1, tak banyak yang bisa kembali," akunya kepada ESPN.
Satu musim penuh juga akan dijalani Sebastian Vettel, rekan Sebastian Bourdais, di STR. Musim lalu pembalap Jerman berumur 20 tahun itu satu kali membalap untuk BMW Sauber F1 Team di GP Amerika Serikat, dan tujuh kali buat STR dalam delapan seri terakhir. Penampilan terbaiknya adalah finis di posisi empat GP Cina.
Dari deretan pembalap yang akan memulai satu musim penuhnya di F1 itu, siapa yang terbaik? Mungkinkah ada yang bisa melewati raihan Lewis Hamilton musim lalu? Awal perjalanan menuki jawaban itu akan dimulai di GP Australia akhir pekan ini.
(krs/arp)











































