Surat Simpati Muhammad Ali untuk Masyarakat Norwegia

Surat Simpati Muhammad Ali untuk Masyarakat Norwegia

- Sport
Selasa, 02 Agu 2011 14:00 WIB
Surat Simpati Muhammad Ali untuk Masyarakat Norwegia
New York - Muhammad Ali menyampaikan simpatinya kepada masyarakat dan korban aksi teror di Norwegia yang terjadi bulan lalu. Petinju legendaris tersebut mengaku sangat sedih karena darah sudah tertumpah sia-sia.

Ungkapan hati Ali itu dituangkannya dalam sepucuk surat terbuka yang ditujukan untuk rakyat Norwegia, yang masih diselubungi duka pasca aksi teror yang terjadi pada 23 Juli lalu.

Mengingat Ali yang mantan juara dunia tinju tersebut sudah lama mengidap sakit Parkinson, ia menuliskan surat tersebut dengan dibantu oleh sang istri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam surat tersebut, sebagaimana diwartakan Yahoosports, Ali menulis, "Hatiku ikut berduka bersama kalian semua yang tengah mengatasi kesedihan luar biasa akibat kehilangan kalian."

Setelah itu Ali juga menulis betapa keragaman di muka bumi adalah sesuatu yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dan multikultural tidak sepatutnya ditakuti. Menurutnya semua orang, terlepas dari agama atau rasnya, pasti menginginkan hal yang sama.

"Aku melihat harapan yang sama agar anak-anak kita bisa mendapatkan kehidupan yang bahagia dan sehat; Aku melihat kerisauan yang sama untuk orang-orang lain yang kurang beruntung dibandingkan diri kita; Aku melihat hasrat yang sama menuju perdamaian dan harga diri," paparnya.

Atas aksi teror di Norwegia, yang sedikitnya menewaskan 91 orang, adalah ulah dari Anders Behring Breivik. Ia mengklaim, tindakannya merupakan usaha untuk memulai revolusi budaya dan menghukum politikus yang menerima multikulturalisme, selain juga untuk "menyucikan" Eropa dari umat Muslim.

Ali, seorang penganut Muslim, menilai orang-orang yang sudah melakukan tindakan-tindakan tak terbayangkan atas nama ras dan agama, "Gagal memahami bahwa kita berbagi lebih banyak hal dengan sesama dibandingkan dengan aspek-aspek yang justru jadi pemisah."

Pria 69 tahun tersebut juga menyebut bahwa cara terbaik untuk menghormati para korban di Norwegia adalah dengan berusaha berbagi dan saling berdampingan dalam sebuah perayaan mengenai kesamaan apsirasi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Parkinson boleh saja sudah sangat membatasi dan merenggut gerak bebas Ali. Tetapi penyakit itu jelas tidak mempengaruhi pikiran dan semangatnya, sebagaimana tercermin dari suratnya untuk masyarakat Norwegia ini.





(krs/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads