Si Jelita 'Pantera', Petarung MMA yang Tak Minat Jadi Model karena Bahu

Kris Fathoni W - Sport
Minggu, 22 Agu 2021 18:17 WIB
Diana Avsaragova
Foto: dok. Instagram @pantera_57_
Jakarta -

Diana Avsaragova adalah seorang petarung MMA yang mulai naik daun. Sosok berjuluk 'Pantera' itu bukan cuma jago bertarung, tapi juga jelita dan punya filosofi menarik soal kesetaraan.

Saat ini sosok 23 asal Rusia yang menetap di Chechnya itu tampil di Bellator, ajang MMA yang berbasis di California, Amerika Serikat, sejak debut April lalu. Catatan tandingnya adalah 2-0 di Bellator dan 4-0 di arena MMA keseluruhan.

Sejak kemunculannya, Diana Avsaragova sudah mencuri perhatian. Dalam waktu kurang dari 30 detik, ia mampu meng-KO Tara Graff yang jadi lawannya di partai debut.

[Gambas:Instagram]

Pantera, demikian nama julukan Diana Avsaragova yang disebut RT.com sebagai salah satu petarung wanita paling menjanjikan Rusia. Julukan yang ngeri itu sendiri kontras dengan parasnya yang jelita -- dan ikut membuat pengagumnya di dunia online terus bertambah.

Parasnya yang jelita itu pula sampai bikin Avsaragova juga mengaku pernah dibanjiri dengan lamaran pernikahan secara online, dari para fans MMA.

Diana Avsaragova sendiri menegaskan tidak tertarik menekuni profesi sampingan sebagai model, walaupun punya paras di atas rata-rata. Ia mengemukakan alasan yang dianggap fansnya sebagai bentuk kerendahan hati.

[Gambas:Instagram]

"Waktu kecil, aku ingin jadi model. Tapi sekarang tidak," katanya kepada Eurosport.ru.

"Dengan bahu selebar diriku ini, aku bakal jadi model seperti apa?! Model itu kan biasanya punya bahu yang ramping. Aku takkan pernah seramping itu. Saat timbang badan (jelang pertarungan) bisa saja seramping itu, tapi aku tak mau terus-terusan seperti itu."

Jika dapat job sampingan sebagai model saja Diana Avsaragova tak mau, penganut agama Islam itu pun menolak mentah-mentah kemungkinan tawaran untuk foto seksi seperti yang tak asing dilakukan beberapa atlet lain.

"Aku berharap itu takkan pernah terjadi," katanya menjawab kemungkinan ada tawaran semacam itu, sembari menambahkan bahwa uang sebesar apapun takkan mengubah pendiriannya.

[Gambas:Instagram]

Diana Avsaragova juga punya pemikiran menarik mengenai kesetaraan gender, topik yang terus berkembang pada saat ini. Dalam pandangannya, secara khusus di dunia olahraga seperti MMA, atlet laki-laki wajar dapat bayaran lebih besar. Di sisi lain, perempuan pun tak boleh dilarang-larang jika memang ingin menekuni dunia tersebut seperti yang ia jalani saat ini.

"Aku tak pernah memikirkan feminisme. Seorang pria tetaplah seorang pria, yang akan lebih kuat tak peduli ia atlet apa. Secara lahiriah, seorang pria memegang kendali. Dan fakta bahwa pria mendapat bayaran lebih besar juga wajar," sebutnya.

"Aku selalu bilang: jika seorang wanita mau menekuni dunia olahraga, ia tak boleh dilarang. Aku pun tak bisa membayangkan menekuni dunia lain jika aku dilarang. Aku dulu tak suka belajar, walaupun kini aku menyesalinya -- terpelajar itu tidak buruk!"

"Aku tidak belajar bahasa Inggris. Aku pikir takkan pernah memerlukannya. Dan kini aku menyesal. Tapi aku juga sudah mulai belajar (bahasa Inggris)," tutur Diana Avsaragova.

(krs/raw)