Jika melihat seri terakhir MotoGP musim lalu, kelihatannya Jorge Lorenzo mudah saja meraih titel juara dunianya. Namun, itu adalah buah kerja keras Lorenzo setelah start buruknya di awal musim.
Lorenzo dengan mudahnya memenangi balapan di Valencia untuk merebut titel juara dunia ketiganya, setelah start dari posisi pertama. Valentino Rossi yang merupakan rival beratnya gagal meraih hasil yang lebih baik dari finis keempat.
Total tujuh kemenangan menjadikan Lorenzo sebagai pebalap dengan kemenangan terbanyak musim ini. Wajar saja jika pria asal Mallorca itu jadi yang terbaik musim ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua kali finis posisi empat di Qatar dan Amerika Serikat, lalu finis posisi kelima di Argentina. Sementara itu Valentino Rossi malah sudah dua kali menang.
Namun, momentum untuk Lorenzo datang ketika dia menang di Spanyol untuk kemudian dilanjutkan di tiga seri setelahnya, Prancis, Italia, dan Catalunya.
"Di Qatar, ada masalah dengan helm di mana saya kehilangan pandangan saya di lap terakhir. Di Austin, saya tidak enak badan dan harus minum antibiotik. Di Argentina, kami tidak cukup cepat selama akhir pekan dan kami malah memutuskan memakan ban soft..itu bukan keputusan yang tepat, di mana harusnya kami memakai ban hard. Jadi saya ketinggalan 29 poin dari pemuncak klasemen dan saya tahu bereaksi secepatnya. Jadi di Jerez, saya pun berkata 'Oke Jorge, membalap saja dan tampil sebaik mungkin tanpa berpikir apapun, percaya saja pada instingmu," dan itulah yang saya lakukan. Akhirnya berhasil dan itu adalah awal dari kebangkitan di beberapa balapan berikutnya," papar Lorenzo seperti dikutip situs resmi MotoGP.
Setelah itu, musim Lorenzo pun kembali mengalami naik-turun terutama setelah insiden crash di San Marino, yang membuatnya tertinggal cukup jauh dari Rossi setelah sempat punya poin sama. Ini pula yang membuat sempat dirinya diragukan untuk bisa jadi juara dunia.
Sampai akhirnya konsistensi Lorenzo untuk selalu berada di podium tiga besar di lima balapan terakhirnya membuat pebalap Spanyol itu tampil sebagai juara, dengan unggul lima poin atas Rossi.
"Ada beberapa poin di musim lalu yang saya percaya sangatlah sulit. Pertama-tama adalah Argentina di mana saya dalam posisi tertinggal 29 poin dan mungkin setelahnya adalah Misano. Anda datang ke sirkuit pada hari Rabu dan segalanya berjalan sempurna hingga hari Minggu. Lalu, tiba-tiba saja pada hari Minggu turunnya hujan ketika balapan berjalan tiga lap. Itulah saat di mana saya kehilangan poin... Tentu saja saya merasa frustrasi. Tapi saya tidak pernah menyerah dan crash di Misano adalah kunci, karena saya sadar bahwa saya hanya harus fokus menang," sambungnya.
(mrp/nds)










































