Ada masanya Burgess amatlah identik dengan Rossi. Tak heran mengingat Burgess sudah bergabung dalam kru Rossi ketika rider Italia itu mulai terjun ke kelas primer pada 2000.
Sudah begitu, tujuh titel juara dunia yang Rossi raih di kelas primer pun seluruhnya ia dapatkan dengan Burgess bertugas menjadi kepala mekaniknya. Mereka berpisah pada 2013, dengan Rossi menunjuk Silvano Galbusera untuk menggantikan Burgess.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin Valentino bukanlah yang tercepat dalam satu putaran, tapi ia masih salah satu yang paling tangguh dalam balapan. Memang benar ia belum juara dunia lagi, tapi sudah amat dekat untuk melakukannya pada 2015," kata Burgess kepada Motorsport.com.
"Dari sudut pandang saya, dan tidak seperti yang dipikirkan banyak orang, ia bukannya baru kehilangan gelar juara dunia musim lalu dalam tiga balapan terakhir melainkan jauh sebelumnya.
"Saat itu ia fokus mengumpulkan podium dan begitulah caranya menghadapi balapan-balapan, tapi sekarang hal itu tidaklah cukup untuk jadi kampiun, Anda harus memenangi balapan-balapan," sebutnya.
Pada musim lalu Rossi di atas kertas masih punya peluang jadi kampiun sampai balapan terakhir di Valencia. Sementara musim ini rider Movistar Yamaha tersebut tinggal punya peluang berebut posisi runner-up dengan Jorge Lorenzo, rekan satu timnya yang musim lalu jadi juara dunia. Titel sendiri sudah disabet oleh rider Repsol Honda Marc Marquez.
"Valentino sudah membuat sejumlah kesalahan tahun ini, dengan kejadian di Assen dan Jepang menarik perhatian saya. Yang di Belanda amat tidak biasa karena ia biasanya tidak jatuh saat sedang memimpin," ucap Burgess.
"Marc mampu menghindari crash karena ia amat cekatan. Valentino, dengan tahun-tahun yang sudah berlalu, jadi lebih lambat dalam bereaksi," tutur pria Australia berusia 63 tahun tersebut.
(krs/cas)











































