Catatan dari MotoGP Jerman
Banyak 'Rossi' di Sachsenring
Senin, 01 Agu 2005 05:15 WIB
Sachsenring - Beginilah suasananya jika sebuah event olahraga otomotif digelar di salah satu negara industri otomotif terbesar di dunia. Tak heran jika ada banyak 'Valentino Rossi' pada gelaran MotoGP Jerman akhir minggu ini.Seorang pria bertubuh jangkung melenggang pede di antara ribuan orang yang sedang memasuki kawasan sirkuit Sachsenring. Lelaki bule ini mengenakan kostum komplet ala pembalap sehingga tampak lebih gagah dari orang-orang biasa. Dari dandanannya jelas ia ingin terlihat seperti Rossi, si satria bermotor dari Italia. Corak pakaiannya menunjukkan hal tersebut: sapuan warna hijau, angka 46, dan tulisan 'The Doctor'.Tapi apa boleh buat, ia tetaplah Rossi gadungan dan sudah kadaluarsa pula. Kadaluarsa? Ya, karena selain umurnya tampak uzur -- saya menduga hampir 50 tahun -- pada pakaiannya juga masih tertera bacaan 'Nastro Azzurro', sementara kostum Rossi saat ini tidak lagi memasang logo perusahaan bir asal Italia itu, hanya terpampang di topi kuningnya saja.Meski demikian saya tak henti-hentinya tersenyum demi melihat kreativitas pada pemuja Rossi di Sachsenring. Ada yang memakai toga sarjana hitam bernomor 46, ada yang mengenakan jas putih ala dokter, atau sekadar mengenakan replika kaosnya. Yang pasti, juara dunia empat kali ini begitu dominan di kalangan penonton, sampai-sampai replika kaos Rossi paling banyak diperjualbelikan.Pesaing terdekat pembalap tim Gauloises Yamaha itu adalah Alex Hoffman. Warna hijau yang merupakan warna khas tim Kawasaki cukup banyak berseliweran di kompleks Sachsenring. Hoffman adalah satu-satunya pembalap Jerman yang saat ini berkarir di pentas MotoGP, tapi prestasinya biasa-biasa saja.MotoGP Jerman sendiri tidak hanya ditonton oleh publik Jerman. Bahkan tidak sedikit fans dari negara-negara lain ikut memberi dukungan kepada pembalap favoritnya masing-masing. Identitas ini terlihat dari bendera yang mereka bawa, misalnya Italia, Finlandia, Prancis, Spanyol, Swedia dan Swiss.Seorang fans Spanyol bernama Miguel saat saya tanya memakai kendaraan apa ke Sachsenring menjawab dengan cepat, "Sete Gibernau!" Lho? Wah gak nyambung.Selain polah tingkah fans, saya juga tak henti-hentinya meneteskan air liur demi menyaksikan "pameran motor di alam terbuka". Ratusan bahkan ribuan penonton berduyun-duyun mengunjungi MotoGP Jerman dengan mengendarai motor dan berdandan ala pembalap, sendirian maupun berboncengan dengan teman atau pasangan.Yang bikin saya 'ngiler' tentu saja jenis motor yang mereka tunggangi: besar, sporty, gagah, dan dijamin mahal harganya, mulai dari motor ala pembalap grand prix sampai Harley Davidson. Nonton MotoGP dengan motor gede: cocok betul, bukan?Dalam perjalanan dari Dresden menuju Sachsenring, saya terhibur oleh aksi biker-biker amatiran itu. Gaya mereka sungguh mirip dengan Rossi cs sampai-sampai mobil sewaan yang saya tumpangi berkali-kali didahului mereka di jalan tol alias highway. Anehnya, saya tidak melihat aksi itu sebagai bentuk ugal-ugalan seperti banyak anak muda di Jakarta yang doyan ngetrek di jalan-jalan umum.Selain motor, sebagian besar fans menyambangi Sachsenring dengan mobil. Tidak sedikit pula yang datang dengan sepeda. Banyak dari mereka berkemah sejak hari Jumat di sekitar sirkuit, baik dengan cara mendirikan tenda maupun di mobil caravan.Sirkuit Sachsenring itu sendiri terletak di daerah pinggiran Oberlungwitz, sebuah kota kecil di kawasan Chemnitz. Nuansa pedesaan membuat areal sirkuit seluas 50 hektar itu terasa indah. Dari dalam sirkuit di kejauhan penonton bisa melihat pemandangan alam yang menggoda tangan untuk memijit tombol kamera (jika punya) agar deskprisinya bisa diabadikan dan dibawa pulang.Sirkuit dengan lintasan trek sepanjang 3,7 kilometer ini adalah langganan tempat test-drive di Jerman. Tiga perusahaan mobil besar di negara ini, yakni VolkWagen, BMW, dan Mercedez membangun show room-nya di sekitar sirkuit sehingga menjadikan tempat ini kental beraroma otomotif.Buat penonton, mereka dijamin tidak akan kesulitan mencari makanan pengganjal perut dan minuman pelepas dahaga karena stand-stand makanan berjejeran di setiap sektor. Kios-kios suvenir MotoGP dan sebagainya, serta vendor-vendor produk otomotif juga menjadi hal yang lumrah ada dalam sebuah event olahraga bertaraf internasional. Namun sirkuit ini tidak memiliki tribun beratap sehingga penonton harus siap kepanasan jika kebetulan cuaca dalam kondisi cerah dan terik.Sungguh, setelah menyaksikan gelaran MotoGP di Sachsenring saya tidak mau "mengganggu" pikiran saya untuk membandingkannya dengan sirkuit yang ada di pinggiran Jakarta bernama Sentul. Alasannya, saya khawatir hanya bisa mengurut dada lantaran teramat banyak perbedaan yang muncul dari pembandingan tersebut. Tapi untuk berharap dan bermimpi mungkin tidak ada salahnya, bahwa kelak pecinta olahraga otomotif di Indonesia tak perlu jauh-jauh untuk bisa menyaksikan secara langsung pentas MotoGP, Grand Prix Formula 1, atau event-event otomotif bergengsi lainnya. (ian/)











































