Keep Joking, Djokovic

Keep Joking, Djokovic

- Sport
Senin, 17 Nov 2008 09:00 WIB
Keep Joking, Djokovic
Shanghai - Petenis nomor tiga dunia ini menutup musim 2008 dengan gemilang. Novak Djokovic, yang dikenal sebagai pribadi yang hangat dan humoris, meraih titel keempatnya di tahun ini dengan menjuarai Piala Masters.

Mengalahkan Nikolay Davydenko di final, Minggu (16/11/2008), dengan skor 6-1 7-5, Djokovic mengakhir inkonsistensi permainannya ketika ia kalah di tiga final terakhirnya sebelum Shanghai, yakni di Queen's, Cincinnati Masters dan di Bangkok -- dan dia tak pernah juara merenguh trofi juara sejak memenangi Roma Masters di bulan Mei.

"Aku gagal memenangi beberapa final di tahun ini, tapi sekarang aku bisa," ujar petenis berusia 21 tahun itu, yang juga menjuarai seri Master di Indian Wells pada Maret silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku mengakhiri musim dengan cara aku memulainya, yaitu memenangi sebuah event besar. Jadi, ini merupakan sebuah dorongan besar untuk musim depan," sambung pemenang Australia Terbuka 2008 itu, seperti dikutip Reuters.

Terlepas dari prestasinya di lapangan, Djokovic memiliki banyak fans karena pembawaannya yang easy going. Ia dikenal ramah dan santai. Ia sering melakukan wawancara dengan bahasa Serbia, Italia, dan Inggris pada sesi yang sama, sebagaimana ia fasih berbicara dengan tiga bahasa tersebut. Selain juga lumayan berbahasa Jerman, ia juga tengah memperlancar bahasa Prancis-nya karena saat ini tinggal di Monte Carlo, Monaco.

Di luar lapangan Djokovic disenangi oleh banyak sesama petenis yang menjadi temannya. Ia sering mengeluarkan kalimat-kalimat lelucon, juga "membadut". Salah satu yang paling diingat publik adalah ketika ia sedang bertanding melawan Carlos Moya di babak perempatfinal AS Terbuka 2007. Di sela-sela pertandingan ia menghibur penonton dengan meniru gaya Rafael Nadal dan Maria Sharapova.

Djokovic memiliki blog dan cukup banyak ia menulis hal-hal ringan dan lucu. "Kebanyakan fansku orang-orang muda. Kupikir mereka tak mau membaca hal-hal seperti 'aku main bagus hari ini. Forehand-ku oke, backhand-ku jelek'. Hal-hal ini tidak menarik. Yang menarik adalah apa yang pemain lakukan di ruang ganti. Baikkah mereka? Jahatkah mereka? Bagaimana mereka di luar lapangan? Tentu saja, aku pun tak terlalu membuka semua. Selalu ada batasan, hanya untuk membuat mereka tertawa. Aku mendapat banyak tanggapan positif dari situ," tuturnya pada pertengahan tahun.

Setelah menang di Shanghai, Djokovic pun melontarkan sebuah ambisi besar, tapi disampaikan dengan bahasa yang enak didengar, sehingga tidak membuatnya terkesan ambisius.

Dengan Jelena Jankovic menduduki peringkat satu dunia di kelompok putri, sementara Nenad Zimonjic dan pasangannya pria Kanada kelahiran Beograd, Daniel Nestor, menjuarai Piala Master di nomor ganda putra, dan mereka kini menjadi pasangan nomor satu dunia, Djokovic pun tercetus rencana untuk menjadi yang terbaik.

"Aku pikir Serbia makin terbiasa menjadi nomor satu. Sepertinya aku pun sudah harus bersiap-siap," selorohnya.

"Tentu saja saya percaya bahwa saya punya kualitas untuk mencapai titik puncak di musim mendatang, atau beberapa tahun lagi, atau (mungkin) 10 tahun lagi," sambungnya, kali ini dengan sedikit lebih serius.

"Itulah tujuan dalam hidup yang selalu coba kugapai. Tapi aku belajar satu hal. Kalau terlalu besar fokus pada ranking, caranya bisa salah," tukas Djokovic.

(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads