Dengan pencapaiannya di Australia Terbuka tahun ini, Serena sudah meraih 10 buah titel grand slam sepanjang karirnya. Empat di antaranya ia rangkum secara berurutan pada tahun 2002 hingga 2003.
Titel pertamanya dalam rentetan tersebut adalah Prancis Terbuka tahun 2002 di mana ia mendukkan sang kakak, Venus, dengan skor 7-5 6-3. Titel tersebut pun kemudian berlanjut dengan Wimbledon 2002, AS Terbuka 2002, dan terakhir Australia Terbuka 2003. Uniknya, di semua turnamen itu ia selalu melawan Venus pada partai final.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat menakjubkan apabila 'Serena Slam' bisa terulang lagi," ujarnya seperti dilansir Reuters, usai mengalahkan Dinara Safina di final hari ini. 'Serena Slam' merupakan sebutan yang merujuk pada kesuksesannya meraih empat grand slam secara beurutan itu.
Mengomentari pertandingannya dengan Safina, Serena mengaku bahwa lawannya itu sebenarnya tak mudah untuk ditundukkan, meski pada kenyataannya ia tampil relatif lebih dominan. Serena menyebut Safina adalah seorang yang merupakan fighter sejati.
"Saya melihat segalanya sangat cepat dan saya hanya berpikir untuk tetap fokus. Saya tak ingin kehilangan fokus itu. Saya berpikir 'oke, Serena, ia adalah seorang pejuang, ia tak pernah menyerah.'" tandasnya.
Sementara Safina sendiri menyebut bahwa Serena tampil sangat agresif sehingga membuat dirinya terus menerus ditekan.
"Dia sangat agresif. Ini bukan karena Anda menragukan diri Anda sendiri, tetapi dia menekan Anda terus karena Anda tak akan mau memberinya bola yang mudah. Ia pasti akan langsung melawannya," tukas Safina.
Keberhasilan Serena semakin lengkap dengan kenyataan bahwa kini ia menjadi petenis nomor satu dunia setelah Jelena Jankovic sudah lebih dulu tersingkir di babak keempat. Selain itu, ia juga sudah lebih dulu tampil sebagai juara di ganda putri Australia Terbuka bersama Venus usai mengalahkan Ai Sugiyama/Daniela Hantuchova kemarin.
(roz/roz)











































