Nadal: Petenis Diperlakukan Seperti Kriminal

Nadal: Petenis Diperlakukan Seperti Kriminal

- Sport
Kamis, 12 Feb 2009 16:58 WIB
Nadal: Petenis Diperlakukan Seperti Kriminal
Rotterdam - Petenis peringkat 50 besar dunia diwajibkan melakukan tes doping setiap hari. Kondisi tersebut diprotes Rafael Nadal yang menyebut tindakan itu sama dengan memperlakukan petenis seperti kriminal.

ATP belum lama ini meratifikasi prosedur tes doping yang tahun lalu dibuat oleh Badan Anti Doping Dunia (WADA). Upaya tersebut jelas punya tujuan baik demi menghindari terjadinya kecurangan, namun metode yang digunakan untuk melakukan pengujian buat para petenislah yang kemudian disoroti.

Berdasarkan aturan tersebut, mulai awal tahun ini setiap petenis yang berada di posisi 50 besar diwajibkan meluangkan waktunya satu jam setiap hari untuk melakukan tes doping. Poin inilah yang kemudian dianggap Nadal sebagai sebuah tindakan yang menyamakan petenis seperti seorang kriminal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak adil kalau kami harus mengalami penyiksaan seperti itu," seru Nadal di sela-sela penampilannya pada World Indoor Tournament di Rotterdam. "Mereka membuat Anda seperti seorang kriminal. Bahkan ibu saya tak tahu saya berada di mana setiap harinya. Sangat sulit untuk tahu ke mana Anda akan pergi, terutama pada cabang olahraga seperti tenis ini," sambungnya.

Aturan baru tersebut harus diikuti ATP karena tenis kini menjadi salah satu cabang olahraga Olimpiade. Namun petenis yang dua pekan lalu menjuarai Australia Terbuka itu mempertanyakan 'pengorbanan' yang harus dilalui petenis hanya karena cabang olahraga tersebut kini masuk cabang Olimpiade.

"Tentu saja kami mau menjadi olahraga Olimpiade, tapi saya pikir kami tak mau membayar kalau biayanya seperti itu. Saya adalah orang pertama yang menginginkan kompetisi adil, kompetisi yang benar-benar bersih untuk semua orang, tapi bentuknya tak harus seperti ini," lanjut orang Spanyol itu seperti diberitakan Reuters.

Masalah pada regulasi baru soal tes doping tersebut tak cuma adanya keharusan menyiapkan satu jam setiap hari. Jika seorang petenis mangkir tes sampai tiga kali dalam tempo 18 bulan, maka dia akan dikenai larangan bertanding hingga dua tahun.

Nadal bukan satu-satunya petenis yang menyuarakan keberatannya pada regulasi baru tersebut.Β  Andy Murray dan Gilles Simon punya suara yang sama dan mengkritik dengan keras aturan yang dianggap sangat menyulitkan tersebut.

Padahal, seperti disebut Murray, tes doping bisa dilakukan setiap ada turnamen saja. Dengan cara seperti itu upaya pencegahan penggunaan doping sudah bisa dihindari.

"Saya hanya berharap bahwa test yang dilakukan di kuar musim bisa dihilangkan dan tes hanya dilakukan setiap ada turnamen. Itu bisa diterima, kami bisa menjalani 30 tes setiap tahun. Saya pikri itu sudah cukup untuk mengetahui apakan seseorang berusaha untuk tidak jujur," unkap Murray dalam konferensi pers.

Adanya keharusan "melapor" setiap hari disebut Simon telah merusak privasinya. "Saya mengubah jadwal latihan di Roland Garros dan pergi ke kebun binatang bersama pacar saya, tapi itu kemudian dibatalkan karena memanggil saya dan meminta datang tepat waktu," curhat Simon. (din/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads