Dalam aturan terbaru tentang program anti-doping di tenis, seorang petenis yang berada di peringkat 50 Besar dunia harus meluangkan waktu satu jam setiap hari untuk melakukan tes doping. Nadal menyebut aturan ini menjadikan para petenis seperti kriminal.
Andy Murray sudah terlebih dahulu mendukung Nadal dengan menyebut aturan ini terlampau keras. Serena menambahi gelombang penolakan di kalangan atlet dengan protes kerasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tak pernah mengatakan kepada orang-orang di mana saya karena saya senang melakukan semuanya sendiri," lanjut jawara Australia Terbuka 2009 itu.
Badan Anti Doping Dunia (WADA) memberlakukan toleransi maksimal tiga pelanggaran dalam 18 bulan. Bila sudah tiga kali melakukan pelanggaran, makan atlet bersangkutan harus siap dikenai sanksi.
"Suatu kali, saya sedang pergi makan malam dan seseorang datang ke rumah untuk mengetes. Saya pikir saya sudah melakukan pelanggaran. Ini aneh. Saya tak bisa lari pulang dari makan malam dan dites. Itu sangat agresif," sungut petenis nomor satu dunia tersebut.
Penentangan memang kian luas. Di Belgia, konon sudah ada 65 atlet yang melakukan gugatan ke pengadilan. Meski keras menolak, Serena mahfum bahwa tujuan WADA, yang lantas diratifikasi oleh Federasi Tenis Internasional (ITF), adalah baik.
"Saya pikir tenis adalah olahraga yang paling murni. Kami tidak akan mendapatkan masalah seperti yang dialami olahraga lain. Ini adalah olahraga yang murni," tutup Serena.
(arp/a2s)











































