"Syukurlah, musim hardcourt sudah selesai," tutur Federer setelah tersingkir di turnamen Sony Erikcsson Open atau Miami Masters, setelah ditundukkan Novak Djokovic di babak semifinal.
"Ini akhir musim hardcourt. Aku tak peduli lagi. Aku akan berpindah ke lapangan tanah liat (clay-court), menuju bab yang baru," sambung pria Swiss berusia 27 tahun itu, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (5/4/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang menarik, walaupun ingin memulai babak baru dengan agenda turnamen-turnamen clay-court, ada satu fakta yang menjadikan Federer belum lengkap. Ia memang sudah mengantongi 13 titel Grand Slam, tapi tidak sekali pun dari Prancis Terbuka, yang notabene turnamen di "lapangan merah". Ia selalu masuk final dalam tiga tahun terakhir, tapi selalu kalah dari Rafael Nadal.
Sejauh ini Federer belum bisa membalikkan performanya, sejak ia kehilangan gelar pemain nomor satu dunia tahun lalu, setelah mendominasi selama empat tahun. Walaupun masih berperingkat dua di ATP, tapi jika begini terus bukan tak mungkin ia bisa disalip Djokovic atau Andy Murray.
Sebagian pengamat menilai, kehebatan forehand dan kuatnya backhand Federer mulai berkurang. Ia juga makin mudah melakukan kesalahan sendiri. Saat menghadapi Djokovic misalnya, ia sampai membuat 47 kali unforced error. Tapi yang terbesar, dia seperti kehilangan naluri membunuhnya.
"Aku belum pernah juara lagi dalam 20 turnamen berturut-turut. Jadi, tak seorang pun benar-benar mengharapkan aku menang," tandas Federer, yang masih memegang rekor kemenangan dalam 24 final turnamen secara beruntun itu.
(a2s/a2s)











































