Posisi satu petenis putri dunia yang saat ini dijejak Safina acap menuai kritikan. Yang paling sering jadi ukuran adalah tidak adanya gelar Grand Slam yang dimiliki oleh si petenis Rusia.
Kritik sangat mungkin akan kembali dia terima setelah kekalahan atas petenis rangking 72 dunia, Petra Kvitova, di babak tiga AS Terbuka, Minggu (6/9/2009). Hasil itu sendiri adalah yang terburuk buat Safina di ajang Grand Slam tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tiga match poin dan aku tak bisa melakukan apa-apa," lanjut dia merujuk kepada situasi di set ketiga yang tak bisa dia manfaatkan sehingga Kvitova pun membawa partai menuju tie-break.
Di babak tie-break itu, Kvitova meraup tiga poin beruntun untuk unggul 5-2. Safina sempat mereduksinya, tapi Kvitova tetap dapat mengunci kemenangan terbesar dalam karirnya sejauh ini.
Pertandingan pun akhirnya ditutup pukul 00.47 dinihari waktu setempat, di bawah perhatian publik Armstrong Stadium yang terisi setengahnya. Meski tidak penuh, nuansa di stadion itu tetap bikin Kvitova senang.
"Di sini luar biasa. Aku suka New York," pekiknya ke arah penonton.
Kembali ke si petenis putri nomor satu dunia Dinara Safina, lajunya di Flushing Meadows tampaknya benar-benar harus jadi pelajaran penting di masa depan. Dari tiga partai yang dia lalui kesemuanya harus dimainkan dengan tiga set, di mana pada set pertama dia selalu ketinggalan lebih dulu.
Parahnya lagi, ketiga lawan yang dihadapi petenis unggulan pertama itu kesemuanya tidak termasuk jajaran favorit. Setelah melawan petenis wildcard Olivia Rogowska di babak pertama, Safina hanya bersua Kristina Barrois (rangking 67) di babak kedua sebelum akhirnya Kvitova.
"Aku menuju lapangan dan berencana ingin melakukan sesuatu. Yang terjadi kemudian malah aku melakukan hal yang sebaliknya ketika sudah menginjak lapangan," tutur Safina.
(krs/a2s)











































