Jelang Piala Thomas-Uber 2004
Ganda Putri Butuh Kekompakan
Selasa, 27 Apr 2004 18:31 WIB
Jakarta - Pelatih ganda putri Indonesia, Paulus Firman, menyatakan bahwa tim Uber Indonesia tinggal memerlukan latihan kekompakan. Meskipun demikian ia tak berani menetapkan target. Pagelaran Piala Thomas/Uber bakal dilangsungkan sepekan mendatang. Tim Uber Indonesia dihadapkan dengan lawan kuat China dan Belanda di babak penyisihan grup. Sebagai bagian dari kontingen tim Uber, sektor ganda putri diharapkan mampu menjadi tulang punggung timnya. Sayang sebagai tulang punggung penampilan mereka sungguh jauh dari memuaskan. Dalam dua turnamen pemanasan terakhir yang diikuti Indonesia, baik ganda putri maupun tunggal putri gagal mempersembahkan gelar. Bahkan pada Kejuaraan Asia lalu, ganda putri Indonesia langsung keok di babak pertama. Uniknya, dua ganda andalan Indonesia dikalahkan oleh ganda asal China, negara yang bakal menjadi lawan Indonesia di babak penyisihan Piala Uber mendatang. Jo Novita/Lita Nurlita kalah dari pasangan Du Jing/Yu Yan, sedangkan Gresya Polii/Heny Budiman ditaklukkan Wei Yili/Zhao Tingting. Sementara Lilyana Natsir/Eny Erlangga menyerah dari ganda Taiwan Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing. Meskipun para pemain babak belur di tangan ganda kedua China, namun pelatih ganda putri, Paulus, menyatakan bahwa pihaknya optimis anak asuhnya mampu berbuat yang terbaik. Karenanya, pelatih bakal menerapkan strategi yang lebih bersifat non teknis seperti persiapan mental dan peningkatan kekompakan tim. "Kami sudah siap. Masalahnya sekarang hanya ada pada kesiapan mental para pemain. Pasalnya pada event-event sebelumnya termasuk Korea (Terbuka) dan Jepang (Terbuka) kemarin tim uber kelihatan belum mapan dibandingan tim Thomas," terang Paulus kepada para wartawan di Istora, Selasa (27/4/2004)."Antisipasi yang disiapkan tim pelatih mulai dari hari ini (27/4/2004) adalah memasukan mereka ke satu penginapan (Hotel Hilton) untuk menanamkan kekompakan dan kebersamaan. Kami ingin terangkan kalau kemenangan atau kekalahan bukan untuk satu orang melainkan untuk tim," lanjutnya.Selain faktor non-teknis, Paulus tak menampik kalau anak asuhnya masih memiliki kelemahan strategi. Kelemahan itu terletak pada ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan permainan lawan. "Selain mental ada sedikit kelemahan startegi, pemain putri lamban mengantisipasi apabila lawan mengubah strategi permainan. Misalnya saat kita leading dan lawan mengganti strategi, pemain Indonesia sering tidak beradaptasi dengan permainan lawan."Kelemahan-kelemahan itu oleh pelatih telah coba ditangkal dengan beberapa antisipasi. Namun antisipasi lagi-lagi kembali ke soal motivasi. "Antisipasi yang disiapkan untuk meningkatkan motivasi adalah pemberian gambaran yang positif. Para pemain memiliki potensi, buktinya mereka punya ranking dunia dan pernah mencapai 8 besar di Swiss Terbuka. Permainan nothing to loose tetap tetap memberikan yang terbaik adalah kuncinya," lanjutnya. Menyinggung target, Paulus menyatakan bahwa pihaknya mencoba realistis. Pasalnya tim Uber Indonesia hanya diunggulkan di posisi sepuluh. "Lihat satu demi satu, dan kita harus realistis. Uber seeded 10, berada di atas Afrika Selatan dan Kanada, namun dibawah Jerman." (mel/)











































