Alpen Makro Bares, misalnya. Siswa kelas I SMP Metodis, Tanjung Morawa, Deli Serdang ini hobi memancing. Saban hari, ia ke kolam ikan bersama teman-temannya.
"Lalu saya buatkan lapangan dan dia mulai senang main bulutangkis. Sampai sekarang keterusan," kata ayah Alpen, Johanes Bares kepada detikSport saat ditemui di sela-sela Audisi PB Djarum di GOR Djarum, Jati, Kudus, Sabtu (3/7/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tahunya karena dia nangis usai main. Saya kira berkelahi, tapi dia nangis karena kalah. Lawannya anak SMP, sementara saat itu dia masih kelas V SD," jelasnya.
Sejak itu, Johanes yakin anaknya punya semangat untuk maju. Kemudian Alpen dimasukkan dalam Klub Angsapura dan permainannya jadi tambah baik.
"Selama ini dia jarang bertanding karena minimnya kejuaraan. Makanya begitu dengar ada audisi, dia ingin ikut," kata petani sawit yang juga guru SD ini.
Pengakuan serupa datang dari Bayu A.S, siswa kelas I SMP Luwuk, Sulawesi Tengah. Dia mengenal bulutangkis sejak usia 8 tahun karena di dekat rumahnya ada lapangan. Setelah asik melihat, lalu mencoba.
"Ternyata menyenangkan," katanya singkat.
Bayu lebih beruntung dibanding Alpen. Di daerahnya lumayan sering kejuaraan, mulai tingkat sekolah hingga provinsi. Beberapa piala berhasil digondol sulung dua bersaudara ini.
"Semoga saja dia lolos. Dia siap hidup berpisah dengan keluarga dan kami mengikhlaskannya," kata ayah Bayu, Mochtar Ali.
Sejauh ini, Alpen dan Bayu lolos. Mereka harus bersaing dengan ratusan peserta. Audisi digelar lagi hari ini mulai pukul 15.00 WIB.
(try/krs)











































