Piala Thomas & Uber 2004
‘Tim Uber Kita Harus Nekat’
Senin, 10 Mei 2004 00:00 WIB
Jakarta - Karena sudah kalah dua kali, Manajer Christian Hadinata meminta tim Piala Uber Indonesia nekat saat menghadapi pertandingan berikutnya. Hanya dengan bermain ngotot mereka bisa mengembalikan peluang untuk maju ke babak semfiinal, sebagaimana ditargetkan PBSI.Demikian dikatakan Christian kepada wartawan usai Indonesia ditekuk Belanda 2-3 di penyisihan Grup W di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (9/5/2004). “Kita sudah kalah dua kali, jadi berikutnya harus nekat. Kalau kalah lagi nanti jadi kebiasaan,” ujarnya. Dibalut raut muka lelah, Christian tidak kuasa menyangkal bahwa tim Uber masih memiliki banyak kekurangan. “Anak-anak memang sedikit tidak beruntung, tapi mereka juga kalah pengalaman… Tapi inilah hasil maksimal yang bisa dicapai pemain-pemain putri kita,” tambahnya.Pendapat tersebut diamini pelatih tunggal putri Ivana Lie, yang sejak partai pertama melawan Cina anak-anak asuhannya tak ada yang bisa menyumbangkan poin. “Pengembalian servis masih kurang, sering diberikan cuma-cuma kepada lawan,” katanya.Khusus mengenai tunggal pertama Silvi Antarini, Ivana menyebut pemain berusia 20 tahun itu dinilai memiliki dua kendala non teknis, yakni pengalaman dan manajemen stres. Yang terakhir terlihat ketika ia menghadapi pemain Belanda Yao Jie. Dua kali ia sempat jauh memimpin perolehan skor namun akhirnya bisa dikejar dan kalah.Soal rencana ke depan Ivana mengatakan pihaknya sedang membahas perubahan pelatnas putri. Namun hal ini tidaklah mudah mengingat saat ini pelatnas kekurangan pemain, sementara kemamuan pemain-pemain di luar pelatnas juga masih pas-pasan.Hari Selasa (11/5/2004) besok tim ini akan menghadapi runner up Grup X (Taiwan atau Jerman) di babak playoff. Christian melihat kans untuk memenangkan pertandingan tetap terbuka, terutama apabila ada pemain tunggal yang menyumbangkan angka. “Kalau kalah lagi, pulang ke Cipayung,” tukasnya. (a2s/)











































