Legiun Asing di Negeri Asing

Legiun Asing di Negeri Asing

- Sport
Rabu, 12 Mei 2004 13:20 WIB
Jakarta - Pepatah 'Banyak Jalan Menuju Roma' tampaknya semakin populer saja. Tak hanya di sepakbola, Thomas-Uber kali ini juga diwarnai oleh kehadiran pemain asing di negara yang bukan tempat kelahirannya. Apa yang menarik dari kehadiran tim-tim non-Asia yang berlaga di perhelatan Thomas-Uber kali ini? Yang pasti bukan permainannya, namun terdapatnya 'wajah asing' berada dalam deretan pemain dari benua biru itu. Ketika berlangsung pertandingan antara tim Uber Cina Taipei melawan Jerman, penonton sempat dibuat bingung melihat dua sosok berwajah asia berlaga di lapanganyang mempertandingan pertandingan tunggal pertama putri itu. Ya, Cheng Shao Chieh dan Xu Huaiwen memang berdarah China, namun keduanya membela tim dari negara yang berbeda, yaitu Cina Taipei dan Jerman. Huaiwen bukan satu-satunya. Selain pebulutangkis yang membela Jerman itu, ada Yao Jie yang memperkuat tim Uber Belanda, dan Lenny Permana, pebulutangkis kelahiran Indonesia, yang bermain untuk tim Uber Australia. Di tim Thomas Amerika Serikat, seluruh anggota tim yang dibawa oleh kepala pelatih Tony Gunawan, yang asal Indonesia itu, adalah pemain impor. Menurut salah satu pemain impor AS yang ditemui detikcom, Kevin Han, alasannya berlaga di negara yang bukan negara kelahirannya adalah demi kesempatan bermain. Buat Han, di AS dia bisa mengembangkan diri dan mencapai puncak. Pasalnya di negara paman sam itu persaingan tak seketat seperti di negara kelahirannya, Cina. "Saya bukan siapa-siapa di Cina. Di AS, bulutangkis bukan olah raga populer seperti halnya basket atau tenis yang sangat kompetitif. Karena tak banyak pesaing, saya bisa menjadi yang terbaik di cabang ini," ujar pria yang sudah bermain bulutangkis sejak berusia 13 tahun itu.Demi mencapai tujuannya, uang bahkan bukan lagi menjadi alasan. "Bermain badminton tak menghasilkan uang," ungkap pria yang migrasi ke AS saat berusia 17 tahun itu. Untuk menghidupi dirinya, ia bekerja di sebuah organizing comittee yang mengurusi kebutuhan tim olimpiade AS. "Di tempat saya bekerja, jadwal latihan maupun pekerjaannya sangat fleksibel. Jadi saya bisa bermain bulutangkis sekaligus bekerja," lanjutnya. Pilihan Han memang tak salah. Bersama pasangan gandanya, Howard Bach, pria berusia 31 tahun ini bisa mencapai ranking 21 dunia dan sudah lolos ke Olimpiade Athena. Jika Han masih di Cina, mungkin kesempatan untuk berlaga di turnamen multievent terbesar di dunia itu takkan pernah datang. Tak berbeda dengan Han, Huaiwen, dara kelahiran Cina yang kini membela Jerman itu memutuskan untuk pindah ke negeri bavaria demi memuluskan jalannya untuk tampil di turnamen internasional sekelas olimpiade. "Setiap atlet pasti berkeinginan untuk membela negaranya di olimpiade, kalau saya tetap di Cina, saya tak mungkin tampil di olimpiade tahun ini," ungkap pebulutangkis berperingkat 12 dunia itu. Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia olahraga. Beberapa waktu lalu, dunia sepakbola dunia sempat heboh ketika pesepakbola yang membela klub Bundesliga Jerman, Ailton, berkeinginan untuk pindah kewarganegaraan menjadi Qatar. Alasan Ailton waktu itu sederhana saja, ia tak pernah punya kesempatan untuk membela negara kelahirannya Brasil karena banyaknya pemain berbakat di negara yang terkenal dengan tarian sambanya itu. Namun karena top skor Bundesliga itu sama sekali tak punya hubungan dengan Qatar, maka keinginannya dikecam habis-habisan. Karena kasus Ailton juga, Asosiasi sepakbola dunia (FIFA) pun mengeluarkan peraturan yang melarang seorang pemain pindah kewarganegaraan kecuali punya hubungan historis atau telah tinggal sekurang-kurangnya dua tahun di negara tujuan. Bagaimana dengan Federasi Bulutangkis Dunia (IBF)?. Melihat banyaknya pemain asing di perhelatan Thomas-Uber ini tampaknya IBF belum sekeras FIFA dalam menerapkan peraturan soal pindah kewarganegaraan ini. (erk/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads