Jago-Jago Tua Turun Gunung di Malang

Djarum All Stars 2011

Jago-Jago Tua Turun Gunung di Malang

- Sport
Jumat, 29 Apr 2011 17:46 WIB
Jago-Jago Tua Turun Gunung di Malang
Malang - Mantan jawara bulutangkis baik tingkat nasional serta internasional akan kembali berlaga di ajang Djarum All Stars, digelar pada 30 April 2011 di  GOR Graha Cakrawala, Universitas Negeri Malang.

Para jawara itu antara lain peraih medali emas olimpiade 1992 Alan Budikusuma,  juara All England 1992 Eddy Hartono, mantan juara dunia dan All England Christian Hadinata, Haryanto Arbi, Sigit Budiarto, serta srikandi Indonesia di era 80-an, Ivana Lie.

Selain legendaris bulutangkis nasional, laga ini juga menurunkan pebulatangkis muda seperti peraih medali perunggu Olimpiade 2008 Maria Kristin, Fransiska Ratnasari, Komala Dewi, Jenna Gozali, Andre Kurniawan, dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ketua Pengprov PBSI Jawa Timur Yacob Rusdianto, Kota Malang menjadi kota kedua dalam  penyelenggaraan ini, setelah Tahun 2008 silam di Purwokerto, Jawa Tengah.

Malang juga menjadi kota pencetak atlet bulutangkis handal hingga membawa nama  harum bangsa. Mereka Johan Wahyudi dan Hendrawan juara dunia Tahun 2001, Rudi  Hartono, Alan Budikusuma, Tony Gunawan, dan banyak lagi lainnya.

"Dengan kedatangan mereka, bisa memberi inspirasi kepada atlet muda, untuk menjadi yang terbaik di masa mendatang," ujar Yacob saat jumpa pers di Hotel Santika, Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jumat (29/4/2011).

Dalam kesempatan itu, Yacob juga menyinggung lambannya regenerasi dari cabang olahraga (cabor) yang pernah menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia ini. Akibatnya, beberapa tahun terakhir, prestasi bulutangkis Indonesia di tingkat internasional menurun.

"Generasi penerus, lamban untuk tampil, melanjutkan perjuangan para seniornya.  Ini yang menjadi masalah saat ini," tegasnya.

Selain itu, lanjut dia, perhatian kepada cabor ini, masih cukup sedikit jika dibandingkan dengan cabor lain. Begitu juga peran pihak ketiga masih dirasakan kurang.

"Perlu dana besar, selain mencetak atlet andalan. Selama ini tak satupun BUMN  yang merealisasikan dananya untuk bulutangkis, meskipun MoU telah disepakati," bebernya.

Hal senada juga diutarakan Christian Hadinata, bahwa yang terjadi sekarang ini, jam terbang untuk atlet muda sangat minim. Event-event pemula sangat jarang diikuti. Padahal itu menjadi kendaraan untuk mengikuti event di atasnya.

"Jam bertanding atlet muda kurang sekali. Seharusnya mereka harus rajin mengikuti event yang ada, karena sangat banyak sekali. Melalui event itu, mereka  bisa melanjutkan ke event di atasnya," ujar mantan juara All England ini.

Christian juga tak memungkiri dalam pembinaan atlet muda serta membawa kembali  nama besar Indonesia di lapangan bulutangkis, memerlukan suntikan dana besar.  Sampai kini, pembinaan hanya dilakukan seadanya, meskipun perhatian dari  pemerintah sudah maksimal. "Perlu dana tidak sedikit," tuturnya. 

Sementara Ivana Lie mengharapkan ajang ini bisa menjadi pembius bagi atlet muda untuk giat mengejar  prestasi. "Semoga dengan kehadiran kami, bisa memacu semangat pemain-pemain muda kita,"  paparnya.

Ketika ditanya apakah diperlukan langkah tegas untuk mengangkat kembali bulutangkis Indonesia melalui sebuah reformasi yang pernah dilakukan cabang olahraga lain, Ivana menanggapi dingin. Menurutnya, saat ini lebih banyak memperhatikan kelangsungan generasi muda sebagai pengganti di masa mendatang.

"Kami di KBI (komunitas bulutangkis indonesia) belum memikirkan ke arah sana.  Kita lebih mengacu pada regenerasi atlet muda," terangnya.


(a2s/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads