Empat tahun lalu bersama Hendra Setiawan, Markis Kido menjadi pahlawan Indonesia dengan meraih medali emas di Olimpiade Beijing. Kini ia merasa kemampuannya menurun.
Kido (dan Hendra) bahkan tidak akan mempertahankan medalinya itu karena tidak lolos kualifikasi Olimpiade London bulan Agustus mendatang. Dari nomor ganda putra Indonesia hanya diwakili satu pasang: Bona Septano/Muhammad Ahsan.
Di perhelatan Piala Thomas tahun ini, Kido selalu dimainkan tapi selalu kalah. Di pertandingan pertama Indonesia melawan Inggris di Grup A, ia dan Hendra kalah 19-21 21-14 17-21 dari Chris Addock/Andrew Lewis. Indonesia "hanya" menang 4-1.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kido turun lagi di babak perempatfinal kemarin melawan Jepang, kembali dengan Hendra Setiawan. Tampil di partai kedua setelah Indonesia membuka skor melalui Simon Santoso, ganda putra nomor 9 dunia itu menyerah dua set langsung, 14-21 8-21, dari pasangan nomor 12 dunia, Noriyasu Hirata/Hirokatsu Hashimoto. Di akhir pertandingan Indonesia kalah 2-3 dan masuk kotak.
"Saya juga tidak tahu kenapa sulit sekali untuk fokus. Imbasnya banyak kesalahan yang saya buat sendiri," aku Kido seusai kekalahannya kemarin, seperti dilaporkan wartawan detiksport Femi Diah dari Wuhan Gymnasium Sport Center, Wuhan, China.
Sepanjang ingatannya, pemain berusia 27 tahun itu sudah merasakan permainannya turun setelah tampil di Asian Games 2010 di Guangzhou.
"Itu sudah sisa-sisa masa kejayaan," tutur pria kelahiran 11 Agustus 1984 itu.
Usai Asian Games itu penampilan Kido/Hendra memang menurun, terutama lantaran Kido terus-menerus dibekap cedera. Penampilan keduanya juga tak terlalu maksimal karena memilih untuk tetap berada di luar pelatnas.
"Soal passion saya belum bisa menjawab, seperti pula tentang pensiun," jawab Kido soal ditanya kemungkinan menyudahi kariernya.
(/)











































