Keinginan Bulutangkis untuk Lebih Menduniakan Dirinya dan India yang Adem Ayem

Catatan dari New Delhi

Keinginan Bulutangkis untuk Lebih Menduniakan Dirinya dan India yang Adem Ayem

- Sport
Rabu, 28 Mei 2014 11:13 WIB
Keinginan Bulutangkis untuk Lebih Menduniakan Dirinya dan India yang Adem Ayem
detiksport/femi
Jakarta -

Ada harapan besar yang dibawa para pemain Nigeria ketika memutuskan menekuni bulutangkis. Tapi, mengkhawatirkan Piala Thomas-Uber di New Delhi, India, bisa merusak ekpektasi tinggi yang terlanjur diusung Victor Makanju dkk.

Nigeria datang dengan kekuatan tak ideal. Tidak pasang target muluk. Asal bisa ikut, sudah senanglah para pemain dan ofisialnya. Berjumpa Indonesia yang disebut-sebut sebagai kekuatan besar bulutangkis pun bukannya keder tapi malah senang. Toh, kalah pun dikalahkan oleh pemain top, begitu kata Victor.

Victor, seperti kebanyakan orang Nigeria, mengisi masa kecil hingga remajanya dengan bermain sepakbola dan sepakbola. Ya di jalanan, ya ikut-ikut kejuaraan. Dia pun cukup mahir dalam menggocek bola.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Victor pernah meyakini, sepakbola bisa membuatnya sejahtera secara materi, juga dapat popularitas yang tinggi. Sepakbola telah membuat Victor bermimpi.

Tapi, kemudian dia mengubah haluan saat masa-masa SMA. "Saya bermain bulutangkis karena olahraga ini lebih beradab," kata Victor.

Demikian pula Prancis. Sebuah kekuatan baru dari Eropa. Untuk pertama kalinya, Prancis merasakan putaran final Piala Thomas.

Namun, India rupanya tak menyadari begitu tingginya harapan yang dibawa negara-negara "kelas dua" bulutangkis. Sebuah event besar digarap asal-asalan.

Aroma Piala Thomas-Uber sama sekali tak ada ketika saya tiba di bandara New Delhi. Saya sempat berpikir, apa saya yang kurang cermat karena kebetulan saya tiba tengah malam.

Pagi harinya, koran Hindustan Times juga hanya menempatkan Piala Thomas Uber di pojok bawah halaman olahraga. Tidak ada jadwal pertandingan atau harga tiket, sebuah informasi standar buat para penggemar bulutangkis. Padahal India tampil di dua piala yang diperebutkan.

Tim bulutangkis India juga tak buruk-buruk amat. Saina Nehwal punya prestasi yang oke. Jwalla Gutta dan Ashwini Ponnappa juga jadi bintang di tim Uber. Nampaknya publikasi untuk Piala Thomas-Uber kurang maksimal.

Sebab kata teman saya, orang Indonesia yang lahir dan besar di New Delhi, Dody Barani Irawan Siregar, India Open Super Series yang jadi agenda tahunan stadion tak sepi-sepi amat.

Sudah begitu tiket juga dipatok tinggi. "Harga tiket untuk Piala Thomas Uber terlalu mahal," kata Dody. Harga tiket di babak kualifikasi paling murah senilai 1.000 rupee (Rp 200 ribu). Saat memasuki perempatfinal, kemudian semifinal dan final kian meningkat. Harga itu tak jauh berbeda dengan gelaran Piala Thomas-Uber di Jakarta 2008. Namun, buat masyarakat New Delhi yang lebih gemar menyaksikan kriket, harga itu mungkin dirasa kemahalan.

Akhirnya untuk meramaikan acara, tiket digratiskan buat mereka yang punya kartu pelajar dan anggota perkumpulan bulutangkis. "Tapi tak ada acara meet & greet. Kami ingin minta tanda tangan tapi tak punya kesempatan," begitu kata salah satu penggemar bernama Tushita, yang kemudian memutuskan untuk menitipkan buku kepada salah satu rekan jurnalis dari Indonesia demi mendapatkan tanda tangan.

Tak hanya membuat penonton keki, awak media yang bertugas juga diuji kesabarannya. Mixed zone yang harusnya menjadi jalur mudah untuk wawancara singkat sungguh aneh lokasinya. Bukannya ada di jalur pemain dari lapangan ke ruang ganti, tapi ada di sebuah ruangan beda lantai dan tak dilewati pemain.



Sudah begitu, kru yang bertugas tak selalu bisa merayu para pemain untuk datang ke mixed zone. Sementara, untuk mendekati tribun pemain, petugas yang berjaga begitu disiplin menjalankan tugas. Manajer seolah-olah menjadi sosok agung yang tak boleh disentuh. Untuk wawancara, ada serangkaian administrasi yang harus dilewati.

"Kami sediakan form wawancara manajer, tapi bukan berarti saya bisa menghadirkan dia saat ini, nanti atau besok," begitu kata petugas yang berjaga-jaga.

Bahasa juga jadi kendala. Jika dalam pelaksanaan Piala Thomas-Uber sebelumnya ada penerjemah untuk bahasa Korea, Jepang, dan China, kadang-kadang Rusia, kali ini sama sekali tidak ada. Mungkin memang jadi pelajaran, untuk menjadi polyglot.

Koneksi internet juga jadi kendala. Dalam pertandingan pertamaβ€”kebetulan Uber Indonesia tampilβ€”di babak penyisihan koneksi internet belum disediakan. Hari kedua lumayan, ada koneksi tapi lambat sekali.

Semakin mendekati final dan wartawan makin banyak yang datang, koneksi pun ikut-ikutan drop. Tak hanya sekali dua kali panitia menghadirkan puluhan teknisi tapi hingga final berlangsung pun soal itu masih jadi problem.

Keamanan pun kurang oke. Meski saat memasuki area Siri Fort Complex, pemeriksaan dilakukan dengan ketat, bahkan ada tentara yang berjaga-jaga dengan senapan di balik tumpukan pasir, beberapa kasus kehilangan terjadi di dalam stadion.





Di hari pertama ofisial Hong Kong kehilangan perekam video. Kasus kehilangan yang akhirnya juga hilang menimpa wartawan Harian Kompas Totok Wijayanto. Tas kamera yang disimpan di loker ruang media sempat raib pada Sabtu (24/5/2014).

Tas yang berisikan dokumen penting paspor, sejumlah uang tunai dan laptop hilang. Tiba-tiba lokernya sudah berganti dengan tas orang lain.



Dalam rekaman CCTV, loker itu diketahui dibuka oleh seseorang berwajah familiar. Dia wartawan lokal. Solusi aneh diambil oleh panitia setempat. Totok diajak ngopi dan ngobrol ngalor ngidul.

Kemudian Totok diajak untuk mengecek ulang loker itu dengan disaksikan bidang media BWF Gaylle Allene. Di hadapan Gayle tiba-tiba loker itu sudah berisi tas yang dimaksud. "Seolah-olah saya yang tidak waspada," sesal Totok.

Cerita tentang buruknya pelaksanaan Thomas Uber masih berbuntut. Saya yang kebetulan pulang berbarengan dengan rombongan media dari Malaysia terus membicarakan kekacauan pekerjaan mereka.

Sebagai media yang dekat dengan markas BWF, teman-teman dari Malaysia kompak berencana untuk mengusulkan sebuah sanksi kepada BAI. Mereka ingin BWF minimal mencabut status super series dari India Open.

Ada lagi yang bikin ajang Piala Thomas-Uber kurang meriah kali ini. Perayaan juara hanya sekadarnya, macam acara 17-an. Pemain dikalungi medali dan sarung khas India. Tak ada taburan konfetti saat tim China menerima Piala Uber dan tim Jepang mendapatkan Piala Thomas.

Padahal China, Jepang, dan tiga negara lain yang naik podium dari masing-masing Piala sudah bertarung habis-habisan demi mendapatkan trofi itu. Mungkin BWF juga perlu koreksi diri. Tidak sekadar mengiyakan pengajuan negara untuk menjadi tuan rumah karena tak ada pilihan lain.

Buat saya sendiri, inilah mungkin bagian dari jualan wisata India dengan Incredible India-nya!

Selamat tinggal New Delhi. Semoga gelaran di tahun 2016 lebih semarak lagi, demi bulutangkis yang terus berusaha untuk lebih dikenal di negara-negara di luar Asia.

===

* Penulis adalah redaktur detiksport, pemilik akun twitter: @femidiah

(fem/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads