Besut Ganda Putri, Eng Hian Jadikan Istri sebagai Konsultan

Besut Ganda Putri, Eng Hian Jadikan Istri sebagai Konsultan

- Sport
Rabu, 01 Okt 2014 16:23 WIB
Besut Ganda Putri, Eng Hian Jadikan Istri sebagai Konsultan
Badminton Indonesia
Jakarta - Sektor ganda putri pelatnas Cipayung sering dianggap sebelah mata dengan sulitnya prestasi dan dinilai tak punya bibit unggul. Eng Hian menyulap situasi itu dengan melibatkan sang istri, Lia Baiin, yang dijadikan sebagai lawan diskusi.

Di balik laki-laki sukses ada perempuan hebat. Pepatah itu tepat untuk mengiringi keberhasilan Eng Hian membawa ganda putri, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, meraih medali emas di Asian Games XVII/2014.

Ya, Eng Hian bisa dengan maksimal menjalankan profesi sebagai pelatih bulutangkis dengan mempunyai Lia yang setia mendampingi dan rela ditinggal dua-tiga pekan ke turnamen-turnamen yang tak cuma di Asia. Tak cuma itu, Lia juga mempunyai peran sebagai konsultan ketika dia dihadapkan dengan psikologis pemain-pemain wanita.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lia memang tak masuk jajaran ofisial tim bulutangkis Indonesia ke Asian Games. Tapi, dia punya peran penting dalam perolehan satu emas cabang bulutangkis di Incheon.

"Saya banyak diskusi dengan istri. Karena terus terang saya tidak tahu menghadapi atlet putri itu seperti apa. Istri saya bilang menghadapi atlet wanita tidak bisa dengan cara menembaknya langsung. Kalau langsung, mereka bisa kejer, nanti malah tak mau latihan lagi. Jadi memang menyelesaikannya harus dengan cara wanita," ungkap Eng Hian.

β€œJadi saya lebih mudah menanamkan kepercayaan diri dan disiplin dalam menjalankan strategi dan agar mereka lebih fokus. Itu yang paling penting. Karena kalau mereka sudah berpikir satu pertandingan 'wah gue menang nih' itu bakal menjadi bumerang buat mereka.

"Makanya saya tekankan untuk fokus satu demi satu poin yang mereka raih. Dan hasilnya terbukti, kepercayaan diri dan fokus, kelihatan sekali saat mereka bertanding," beber peraih perunggu Olimpiade 2004 bersama Flandy Limpele itu.

Memang menangani pemain putri bukan pengalaman pertama pelatih yang akab disapa Didi itu. Tangan dingin dia diasah ketika menangani tim nasional Singapura.

Eng Hian menunjukkan kepiawaiannya menjadi pelatih sektor ganda putri dengan membuat Singapura untuk pertama kalinya bisa meraih jura Super Series, yakni di Singapura Super Series dengan Shinta Mulia Sari/Yao Lei. Dia juga membuat Singapura membuat kejutan dengan pemain ganda putri Fu Mingtian/Yao Lei jadi jawara di kejuaraan Dunia Junior 2010.

Enam tahun di Singapura--mulai 2007 hingga 2013--, Eng Hian memutuskan pulang ke Jakarta. Dia mendirikan akademi bulutangkis di Gunung Putri, Cikeas pada 2013. Eh, ada tawaran dari PBSI untuk jadi pelatih gadna putri kelompok prestasi di pelatnas. Tapi, jabatan itu urung didapatkan karena tak ada kecocokan dengan program rancangan milik Rexy, ketua bidang pembinaan prestasi PBSI. EngΒ Hian pun didapuk jadi pelatih ganda di kelompok potensi yang disii pemain-pemain muda.

Dalam perjalannya, pelatih ganda putri kelompok prestasi lowong karena Riony Mainaky yang diincar untuk mengisi tak kunjung datang, Tim nasional Jepang, di mana dia melatih saat itu, tak mengijinkan Riony pulang. Ganda putri sempat jadi sampingan dengan didampingi pelatih ganda campuran Richard Mainaky. Barulah Maret lalu, Eng Hian diminta fokus menangani ganda putri prestasi.

"Istri saya bukan mantan atlet. Tapi, saya memang selalu mendiskusikan segala sesuatu kepada istri. Jadi dia sudah tahu kalau hidup saya memang bulutangkis. Apalagi setelah saya mendirikan akademi bulutangkis di Cikeas dan kemudian ke pelatnas," ucap bapak dua anak itu.

(mcy/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads