Tantangan untuk Djokovic di Roland Garros

Jelang Prancis Terbuka

Tantangan untuk Djokovic di Roland Garros

Kris Fathoni W - Sport
Kamis, 21 Mei 2015 16:19 WIB
Tantangan untuk Djokovic di Roland Garros
AFP/Miguel Medina
Jakarta - Prancis Terbuka menjadi satu-satunya grand slam yang belum pernah dimenangi Novak Djokovic. Akhir pekan ini petenis yang sudah merebut grand slam pertama di tahun 2015 itu akan kembali merintis jalan ke titel pertamanya di Roland Garros.

Dalam karier bertenisnya Djokovic benar-benar mulai menyeruak sebagai penantang serius setelah menjuarai Australia Terbuka 2008. Sebelum itu ia bahkan cuma satu kali tampil di final grand slam--AS Terbuka 2007.

Sejak kemenangan pertamanya tersebut Djokovic sudah mengoleksi empat titel lain di Australia Terbuka (2008, 2011, 2012, 2013, 2015), membuatnya jadi petenis putra yang paling banyak meraih gelar juara di ajang grand slam pembuka tahun tersebut.

Selain itu dua titel di Wimbledon (2011, 2014) dan gelar juara di AS Terbuka 2011 juga sudah berhasil disabet oleh petenis putra peringkat pertama dunia asal Serbia tersebut. Cuma di Prancis Terbuka ia belum mampu juara.

Sejauh ini capaian terbaik Djokovic di Roland Garros adalah menjadi finalis, yakni pada 2012 dan 2014. Saat itu Djokovic sama-sama kalah setelah bermain empat set lawan "Raja Prancis Terbuka" Rafael Nadal.

Maka cuma Prancis Terbuka saja yang sejauh ini menghalangi Djokovic bergabung dengan Fred Perry, Don Budge, Rod Laver, Roy Emerson, Andre Agassi, Roger Federer, dan Nadal di dalam daftar elit berisikan petenis putra yang sudah pernah meraih keempat titel grand slam secara lengkap.

Untuk Djokovic, yang akan menghadapi Prancis Terbuka tahun ini dengan 22 kemenangan beruntun, favorit teratas merupakan predikat yang ia sandang di Roland Garros tahun ini. Miles Maclagan yang merupakan mantan pelatih Andy Murray, salah satu rival Djokovic, pun amat mengakui hal tersebut.

"Djokovic jelas favoritnya. Saat ini ia terlihat ada di atas petenis-petenis putra lainnya," katanya di Sporting Life.

"Ia tak memiliki semangat Nadal atau gaya Federer dalam melepaskan pukulan klasik nan mulus. Permainannya lebih efisien dan efektif. Kebanyakan orang tak sadar seberapa bagus permainannya. Kehebatannya tak diragukan lagi. Jika terus begini dua tahun lagi mungkin akan ada yang mulai membicarakan dirinya sebagai salah satu petenis terhebat," tutur Maclagan.

Terlepas dari apa yang dibicarakan orang mengenai Djokovic sekian tahun mendatang, saat ini fokus pria yang akrab disapa Nole itu tentunya sudah terarah ke Prancis Terbuka dalam usaha merebut titel pertamanya.

Jika bisa merebut gelar tersebut, siapa tahu pula Nole dapat melengkapinya dengan dua titel grand slam lain di sisa tahun--untuk melengkapi sebuah aksi sapu bersih grand slam dalam setahun, yang sejauh ini cuma bisa dilakukan oleh Laver (1962 dan 1969) dan Budge (1938).

(Kris Fathoni W/Okdwitya Karina Sari)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads