Agar Istora Tak Angker Lagi buat Pebulutangkis Indonesia

Agar Istora Tak Angker Lagi buat Pebulutangkis Indonesia

Mercy Raya - Sport
Jumat, 19 Jun 2015 17:14 WIB
Agar Istora Tak Angker Lagi buat Pebulutangkis Indonesia
Jakarta - Dari tujuh gelaran terakhir turnamen bulutangkis Indonesia Terbuka, hanya dua dari 35 gelar juara diraih pemain-pemain tuan rumah. Ternyata Istora belum menjadi kandang yang menyejukkan.

Di turnamen terakhir, misalnya, pada awal Juni lalu. Hanya satu wakil Indonesia yang bisa menembus babak final, yaitu ganda putri Greysi Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Namun mereka juga tak sampai jadi juara setelah dikalahkan lawannya di laga puncak.

Hanya berselang satu bulan, Istora akan kembali menghajat turnamen besar, yaitu Kejuaraan Dunia. Apakah kali ini Istora bisa ditaklukkan para pemain Indonesia?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya, dari tahun ke tahun memang seperti itu, karena ekspektasi audiens pasti tinggi sekali. Kami juga mengingatkan para pemain agar tidak terpengaruh dengan keinginan penonton. Kemarin saja kalau mau ikutin penonton pasti smash terus," tutur Wakil Sekjen PP PBSI, Achmad Budiarto, kepada detiksport, Jumat (19/6/2015).

"Makanya, hasil (Indonesia Open) kemarin itu termasuk salah satu bagian dari evaluasi kami. Karena memang kalau main di kandang pressure-nya luar biasa," sambung dia.

"Saya bukan psikolog, tapi mereka (atlet) banyak konsultasi. Saya yakin psikolog lebih mengerti untuk mencari formula untuk itu. Sekarang sedang dicoba diatasi oleh psikolog kami, bagaimana menyiapkan mental atlet agar lebih kuat untuk mengatasi tekanan-tekanan seperti itu."

Sementara itu, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Rexy Mainaky, menegaskan bahwa Istora jangan justru menjadi alasan atlet menjadi tertekan.

"Kesan itu tidak boleh, karena mereka semua adalah pemain dunia," tutur Rexy.

"Tekanan pasti ada, tapi itu 'kan sudah jadi risiko yang harus dilewati. Dan mereka sudah berulang-ulang main di Istora. Jadi buat saya bukan Istoranya yang angker, tapi persiapan pemain dan kejelian pelatih dalam analisa kekurangan pemainnya, serta program latihan yang bagaimana," katanya.

"Karena saya juga main di tempat yang sama dan bahkan tahun 1994, penonton bahkan lebih gila lagi. Yang kosong itu hanya lapangan tempat kami main. Tapi kami bisa lalui semua itu dengan keluar sebagai juara Thomas dan Uber Cup waktu itu," kenang Rexy.

(mcy/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads