Sheila berteriak isteris saat membaca isi amplop yang diterima dalam pengumuman hasil grand final pada Minggu (6/9/2015). Peserta audisi asal DKI Jakarta itu dinyatakan lolos ke babak karantina bersama 45 peserta lainnya.
"Setelah diminta berbaris untuk menunggu pengumuman, rasanya jantungan. Saya tak menyangka bisa lolos. Kan saat tes teknik kalah tiga kali dan cuma menang dua kali," kata Sheila.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hadi mempunyai ide untuk mengenalkan Sheila kepada bulutangkis. Di tahun 2013, Sheila dibawa nonton langsung Indonesia Open di Istora. Ternyata dia langsung jatuh hati dan minta untuk dilatih bulutangkis.
Respons positif Sheila langsung ditanggapi oleh Hadi. Pertama-tama dia didaftarkan untuk berlatih di PB Jaya Raya Jakarta. Tapi karena jadwal latihan malam hari, sang ayah memindahkan dia untuk berlatih di Sarwendah Badminton Club.
Karena baru berlatih itu pula, Hadi tak menyangka Sheila bisa terus melaju sampai babak karantina. Bahkan, saking pesimisnya dia sudah membeli dua lembar tiket penerbangan Semarang-Jakarta sebelum audisi kota kesembilan di Kudus benar-benar usai. Ternyata Sheila masih lolos.
"Sudah rugi empat lembar tiket saya," seloroh Hadi yang seorang pengusana Event Organizer itu.
Setelah mendapatkan kepastian Sheila lolos ke karantina, yang artinya tak bisa ditemui, Hadi pun memutuskan untuk pulang ke Jakarta.
"Saya harus pulang dulu untuk memantau lagi usaha saya. Kalau tidak bsia kacau, sudah seminggu saya di sini. Tapi, saya siapkan semua kebutuhan Sheila sebelum saya tinggalkan," kata Hadi.
"Selain itu saya akan paparkan kepada pelatih kalau si anak ini sedikit superaktif, belum sampai hiperaktif. Dia juga lihai memanipulasi situasi. Jangan sampai dikasih hati, tegas saja pokoknya kepada dia," ucap Hadi.
Sheila juga antusias dengan kelolosannya itu. Dia tak merasa ada masalah harus berpisah dengan orang tua dan kakak serta adiknya.
"Atlet favorit Lin Dan, Carolina Marin, dan Chen Long. Kalau bisa seperti Carolina Marin keren," ucap dia.
Lagipula, dia menilai menjadi atlet bulutangkis tak semahal jadi pebalap seperti kakaknya, Ananda Julio Prost. "Bulutangkis tidak semahal balapan kan," ucap dia.
Senada, Erfando dari Surabaya sebagai peserta termuda yang lolos grand final tak bermasalah untuk berpisah sementara dengan ayahnya. Dia siap menjalani karantina satu pekan ke depan.
"Pengen seperti Taufik Hidayat," kata Erfando yang kemudian menangis dan memeluk ayahnya.
"Dia tahu bagaimana konsekuensi menjadi seorang atlet bulutangkis nantinya," kata sang ayah, Erik Masela menimpali.
Karantina bakal dimulai Senin (7/9/2015). Siapa saja peserta yang lolos menjadi pemain PB Djarum akan diumumkan 13 September.
(fem/din)










































