Minggu, 12 Desember 2004, Jesus Aparicio sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-18 bersama teman-temannya ketika dia mengalami kecelakaan mobil hebat. Teman-temannya tak mendapatkan luka serius, tapi Aparicio harus dirawat intensif di rumah sakit. Pemuda dari Sevilla, Spanyol, itu terbaring koma.
Saat Aparicio mendapatkan musibah itu, Federer yang jadi petenis idolanya sedang menapaki jalan menuju puncak kejayaan. Federer saat itu baru berumur 23 tahun dan baru meraih empat gelar Grand Slam. Pada tahun 2004 sendiri, petenis Swiss itu memenangi Australia Terbuka, Wimbledon, dan Amerika Serikat Terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aparicio yang perlahan-lahan mulai bisa kembali bicara banyak bertanya soal keluarga dan teman-temannya. Tak lupa, dia menanyakan soal Federer, yang dia kira sudah gantung raket.
"Itu seperti terlintas di pikiran saya dan saya bertanya soal Roger. Saya pikir dia sudah pensiun," ujar Aparicio seperti dikutip Tennis World.
"Ketika saya tahu bahwa di usia 34 tahun dia masih bermain dan sekarang menempati peringkat dua dunia, saya pikir mereka bercanda. Saya tak percaya," katanya.
Ya, Federer memang masih tampil prima meski usianya sudah tidak muda lagi. Dia hingga kini tercatat sebagai petenis putra dengan gelar Grand Slam terbanyak sepanjang sejarah.
Federer berpeluang menambah jumlah gelarnya di AS Terbuka tahun ini. Sayangnya, dia dikalahkan oleh Novak Djokovic di pertandingan final.
"Ketika saya mendengar dia telah meraih 17 gelar Grand Slam, saya menutupi wajah saya dengan kedua tangan saya. Saya tahu Federer sangat bagus, tapi saya tak pernah berpikir dia bisa memenangi semua yang telah dia menangi," kata Aparicio.
Setelah siuman, Aparicio berkesempatan menyaksikan duel Federer vs Djokovic di final AS Terbuka meskipun cuma lewat layar kaca.
"Saya terkejut melihat dia bermain bagus. Itu amat menakjubkan. Sangat disayangkan dia tak menang, tapi Djokovic bermain sangat bagus," ujar Aparicio.
Sebelum mengalami kecelakaan, Aparicio sebenarnya sudah menabung untuk menyaksikan Federer secara langsung di Wimbledon 2005. Dia pun masih berharap bisa mewujudkan mimpinya yang tertunda itu.
"Saya ingin menonton pertandingannya sebelum dia pensiun, mungkin gelar Grand Slam-nya yang ke-18. Itu akan menjadi mimpi dalam hidup saya," katanya.
Sementara itu, ibu Aparicio, Rosario, mengaku tak pernah menyerah menunggu putranya bangun meski hal itu baru terwujud setelah 11 tahun.
"Kejadian itu merupakan pukulan yang sangat telak untuk kami semua, tapi kami tak pernah berhenti percaya bahwa hari itu akan datang," ujar Rosario.
"Setiap malam saya berbisik di telinganya dan bilang ke dia bahwa saya bersamanya," kata sang ibu.
(mfi/krs)











































