Djokovic berhasil membukukan sejarah dengan menjadi petenis pertama yang menjadi juara ATP World Tour Finals empat kali beruntun. Secara total, dia mengoleksi lima juara dari turnamen tutup tahun petenis putra tersebut.
Sukses itu sekaligus mengukuhkan kekuasaan Nole--sapaan karib Djokovic--pada persainbgan tenis putra tahun ini. Dari 16 turnamen yang diikutinya di tahun 2015, pasangan Jelena tersebut berhasil menembus final sebanyak 15 kali. Dari final-final itu, 11 gelar juara diraihnya, termasuk tiga titel Grand Slam: Australia Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sulit untuk bisa terus berada di posisi itu. Anda bicara soal jarak yang amat tipis. Saya ibaratkan dengan sebuah break point yang mengubah hasil akhir. Anda tak bisa selalu menjadi juaranya. Batasnya amat tipis untuk terus berada di puncak," kata Federer seperti dikutip ABC.
"Itulah mengapa Novak sangat luar biasa. Saya pernah berada di posisi itu, begitu pula Rafa (Nadal). Kami berdua amat memahami betapa beratnya mengulang sebuah sukses dari tahun ke tahun.
"Ini bukanlah tahun pertama yang manis bagi Novak. Tentu saja, dengan pencapaian ini dia akan menghadapi tahun depan dengan lebih percaya diri. Dia tampil amat bagus sepanjang tahun ini. Sulit bagi Novak untuk meraih hasi-hasil buruk, tapi tentunya dia tak hanya boleh sekadar mengulang hasil tahun ini.
"Nah, situasi itu membutuhkan upaya besar. Seorang petenis harus siap secara fisik dan tentunya tak diganggu cedera. Mental juga harus pada posisi top. Kadang kala tuntutan itu tak mudah dipenuhi," ucap petenis 34 tahun itu.
(fem/krs)










































