Pada laga yang dihelat di Hua Hin, Thailand, Sabtu pekan lalu, Indonesia gagal finis empat besar setelah dikalahkan Malaysia 1-2. Indonesia hanya menempati peringkat kelima setelah mengalahkan Pasific Oceania --tim gabungan negara-negara di Lautan Pasifik-- dengan skor 2-0.
Hasil ini penurunan dari tahun lalu, ketika tim "Merah Putih" masuk tiga besar. Sebagai catatan juga, untuk kali pertama tim putri Indonesia kalah dari Malaysia dan Singapura. Padahal pada dua pertemuan sebelumnya Indonesia selalu menang 3-0.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada sistem kita atau sesuatu dari kita yang tidak maksimal. Padahal waktu SEA Games 2011 tim putri bisa mendapat emas di perorangan dan medali perak untuk beregu. Sementara kemarin kita kalah dengan Singapura dan Malaysia. Ini artinya bukan mundur tapi stagnan, dan negara lain lebih maju. Kita mungkin maju tapi selangkah dua langkah, sedangkan negara lain sudah ribuan langkah," kata Bonit, saat dihubungi detikSport, Senin (18/4/2016).
Dilanjutkan Bonit, bahwa perlu ada perbaikan secara menyeluruh tidak hanya kinerja manajemen dan pengurusnya, tetapi dari sisi pelatih, dan atletnya. Sebab, dari segi potensi petenis Indonesia itu ada hanya memang tidak termanfaaatkan dengan baik.
"Kita harus duduk bersama untuk mencari solusi. Semuanya, tidak hanya pengurus, pelatih, tapi juga atletnya. Jadi jangan sepotong-potong. Saya melihat tiga tahun belakangan ini kita stagnan. Maju tidak, mundur tidak. Mandek. Ada apa ini? Itu yang harus kita cari," ungkapnya.
Pelatih klub BW (Bonit Wiryawan) ini mengatakan minimal tenis Indonesia harus berjalan sesuai dengan konsep yang benar dulu. Dalam arti latihannya dibenahi, manajemen kepengurusannya dilakukan perubahan besar.
"On the track dululah. Kalau sudah begitu, minimal anak-anak kita bisa mendekati level negara lain. Mungkin tidak ketemu, tapi minimal sudah hampir berada di titik temu negara lain, yang sudah lebih maju.
"Tidak usah muluk-muluk ke luar negeri dulu, terpenting dalamnya dulu solid. Contoh seperti negara Thailand, China, dan Korea. Mereka dulu tidak keluar, tetapi dia di dalam negerinya cukup solid, disiplin tinggi. Tetapi ketika mereka keluar kan mereka bisa langsung bicara banyak. Sedangkan kita sendiri di dalam negeri saja amburadul," Bonit menjelaskan.
Baca juga: Tim Fed Catat Prestasi Buruk, Angie dan Yayuk Usulkan PB Pelti Direvitalisasi
Masih menurut Bonit, meski sudah on the track bukan berarti di Asian Games 2018 tim Indonesia sudah bisa menargetkan juara. Sebab, di atas kertas petenis Indonesia sudah kalah jauh dengan pemain-pemain Asia.
"Bicara di level Asia Tenggara kita masih punya waktu asal dari sekarang kita harus berbenah, karena kita dulu di Asia Tenggara pernah berjaya. Tetapi untuk Asian Games kita harus melihat realistis juga. Sebab, lawan pasti menurunkan tim terbaiknya seperti Jepang, China dengan kekuatan tim putri yang luar biasa, atau putra Ukzbekistan mereka punya pemain 50 besar putra. Sedangkan kita punya Christopher Rungkat yang peringkatnya 400-an sekian.
"Bukan saya mengecilkan teman-teman, tapi paling tidak memberikan perlawanan yang terbaik dengan bermain on the track itu sudah merupakan hal terbaik,β ungkapnya.
"Tapi sekali lagi harus dengan latihan dan konsepnya yang benar. Nanti didorong dengan faktor X dan mungkin saja ada kejutan. Tapi kejutan tidak bisa didapat dengan tergesit, ada proses. Nah, prosesnya itu yang sulit. Kalau tidak konsisten, tidak bisa juga. Kita bisa mengalahkan yang di atas kita tapi itu satu banding berapa dan butuh perjuangan jauh. Intinya ini menjadi warning buat tenis Indonesia," pungkasnya.
(mcy/a2s)











































