Richard Mainaky: Harapan Itu Ada di Pundak Tontowi/Liliyana

Richard Mainaky: Harapan Itu Ada di Pundak Tontowi/Liliyana

Femi Diah - Sport
Selasa, 16 Agu 2016 17:19 WIB
Richard Mainaky: Harapan Itu Ada di Pundak Tontowi/Liliyana
Foto: REUTERS/Jeremy Lee
Jakarta - Richard Mainaky telah mendampingi ganda campuran bulutangkis sejak Olimpiade 2000. Di Brasil 2016 ini, dia menitipkan harapan kepada Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Polesan Richard telah menelurkan pemain-pemain top dunia di sektor ganda campuran. Kejeliannya memilih dan menempa pemain yang kadang kala sudah 'dibuang' sektor lain berulang kali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Secara konsisten, Richard berhasil mengantarkan anak asuhnya ke panggung olahraga paling akbar sejagad, sejak Olimpiade 2000 Sydney. Hingga empat kali olimpiade berikutnya--dari Sydney berlanjut ke Athena kemudian Beijing dan London--dua perak sudah dipersembakan oleh ganda campuran yang ditangani Richard.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trikus Harjanto yang berpasangan dengan Minarti Timur menjadi runner-up pada Olimpiade Sydney. Sebagai unggulan kedua, mereka digadnag-gadang untuk meraih medali emas. Namun, mereka dipaksa tunduk dari pasangan China, Zhang Jun/Gao Ling, pada partai final.

Empat tahun kemudian, Anggun Nugroho/Eni Widowati dan Nova Widianto/Vita Marissa lolos ke olimpiade Athena. Namun Anggun/Eni tersingkir di babak perempatfinal sedangkan Nova/Vita terhenti di semifinal.

Ganda campuran kembali meloloskan wakilnya ke Olimpiade 2008 Beijing. Vita bersama Flandy Limpele dan Nova sudah berpasangan dengan Liliyana. Nova/Liliyana yang mempunyai rekam jejak bagus sebagai juara dunia 2005 dan 2007 menyumbangkan medali perak.

Kemudian pada Olimpiade 2012 London, ganda campuran juga berhasil menggenggam tiket Olimpiade lewat Tontowi/Liliyana. Keduanya belum berhasil meraih medali.

Kini, Richard mencoba peruntungannya di Rio de Janeiro, Brasil. Dua wakil ganda campuran lolos ke Olimpiade: Tontowi/Liliyana dan Praveen Jordan/Debby Susanto.

Drawing memaksa pasangan Indonesia saling bunuh di babak perempatfinal. Tontowi/Liliyana yang berhasil mendapatkan tiket semifinal. Mereka terus mendekati final usai menumbangkan musuh bebuyutan asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Satu langkah lagi, emas bisa diraih. Emas untuk mengembalikan tradisi buat kontingen Indonesia dan pembuktian bagi ganda campuran bersama Richard.

"Saya akui tekanan buat ganda campuran begitu besar tiap Olimpiade, apalagi buat saya pribadi. Beberapa bulan menjelang Olimpiade saya masuk ke hall (lapangan latihan di Cipayung) dengan rasa waswas," kata Richard dalam obrolan dengan detikSport beberapa waktu lalu.

"Setiap kali masuk tempat latihan saya sudah membayangkan bagaimana situasi di olimpiade nanti. Saya merasakan sebuah kondisi yang hampir sama dengan masa delapan tahun lalu, seperti de javu," sambungnya.

"Beruntung istri saya selalu mendukung sehingga makin mendekati terbang ke Brasil, saya bisa makin rileks."

Kendati mempunyai sebuah tantangan di penatas Olimpiade, Richard tak pernah membebankan ambisinya itu kepada anak asuhnya.

"Saya sudah sepakat dengan para pemain, apapun yang terjadi kami harus bisa memanfaatkan momen ini sedangkan hasil akhir itu urusan yang di atas," tuntasnya.




(fem/mrp)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads